Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

The Magic of Mathematics

The Magic of Mathematics

Matematika ... so what Gitu Lho...?Kalau kita jeli dengan perkembangan psikologis dan akademis pada anak-anak usia sekolah khususnya di Indonesia, kita akan mendapatkan jawaban yang mayoritas bernada minor manakala anak-anak itu mendapatkan pertanyaan “Matematika...menurutmu bagaimana?” sebagian besar anak akan menjawab sebagai pelajaran yang membosankan dan hanya berisi deret angka, pelajaran yang membuat pusing, sakit perut dan gemetar, pelajaran yang membingungkan, pelajaran yang tidak ada gunanya, dan masih banyak deretan pernyataan yang sinis.Pelajaran matematika kehilangan pamornya dibandingkan dengan pelajaran kosong :-) hal ini terjadi disebagian basar sekolah di Indonesia. Walaupun pamornya redup matematika tetap menjadi salah satu bahasa yang penting untuk mengembangkan logika berpikir. Ada beberapa alasan penyebab matematika sebagai pelajaran yang tidak disukai. Banyak pendidik mengajarkan matematika dengan cara yang keras, Matematika hanya berupa angka dan simbol-simbol yang membosankan, pengalaman pahit ketika anak tidak bisa mengerjakan soal matematika yang diberikan guru ditambah dengan hinaan dari guru, teman-teman dan orang tuanya yang kesemuanya itu menurunkan harga diri anak.Banyak pendidik mengajar dengan cara konvensional yang hanya menyentuh sisi logis matematis otak kiri kita. Kadang kita lupa bahwa belahan otak (hymisphere) kita terdiri dari otak kiri dan otak kanan. Dalam perkembangan ilmu psikologi, oleh Dr. Howard Gardner seorang peneliti dari Harvard University, disimpulkan bahwa ada 8 kecerdasan pada tiap-tiap individu yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Adapun 8 kecerdasan menurut Gardner adalah LiLi MaKaN Vanila. Ya ... teknik akrostik ini masih cukup relevan untuk mengingat. Seperti halnya Mejikuhibiniu pada susunan warna pelangi. Diagram di bawah penulis buat untuk menjembatani tipe pelajar auditori dan visual.Bagi pembaca yang tertarik mengetahui lebih dalam tentang Multiple Intelligence dapat mengakses www.howardgardner.com.Lalu bagaimana mengajarkan matematika pada anak. Pertama, kita harus bisa merubah pandangan anak terhadap matematika. Ajarkan matematika bukan hanya sekedar deret Aritmatika, tetapi sebagai sesuatu yang ajaib dan mengasyikkan. Kita harus kreatif menyikapi kemampuan anak-anak kita, sebagia kasus misalkan menyelesaikan perkalian 999 ´ 997 = ... Bagi yang belum tahu cara magicnya pasti akan diselesaikan dengan perkalian susun ke bawah. Pada perkalian susun ke bawah ada 9 langkah yang harus dikerjakan. Langkah ini bisa dipersingkat dengan hanya melakukan 1 kali perkalian. Mau...tau? lihat buku MagicMathic’s 1 cara kreatif belajar matematika, penerbit ANDI yogya, hal 77). Bukan berarti cara konvensional tidak berguna, anda akan melihat kehandalan cara konvensional dalam menemukan pola perkalian istimewa 11. Kedua, ajarkan kreatifitas dengan memberi stimulus pada anak. Contoh perkalian 21 ´ 11, bagi anak kelas 1 SD yang belum mengenal perkalian kita bisa ajarkan dengan penjumlahan, begini langkahnya.21 ´ 11 = 2 ....... 1 21 ´ 11 = 2 (2+1)1 21 ´ 11 = 2 3 1Untuk anak-anak yang sudah mengenal perkalian ajak mereka menemukan pola perkaliannya.21 ´ 111 = ...........21 ´ 1111 = .........21 ´ 111111 = .....TIPS : Hitung semua perkalian dengan cara konvensional. Amati polanya.Proses menemukan pola perkalian ini akan membawa keingintahuan anak semakin besar, kreatifitas anak semakin terasah. Namun semua itu butuh bimbingan dan arahan. Oleh karenanya kita sebagai guru/orang tua juga harus kreatif. Dalam kenyataannya proses kreativitas ini ada pada belahan otak kanan, sedangkan logis matematis ada di belahan otak kiri. So...What...:P?. Perhatikan gambar berikut :L L V L L V L L V L L V L L V L V V V VOtak kiri kita akan merespons gambar kiri sebagia huruf L dan gambar kanan sebagai huruf V, sedangkan otak kanan merespons gambar kiri sebagai huruf V dan gambar kanan sebagai huruf L. Perhatikan dengan seksama suasana saat anda memperhatikan huruf L pada gambar kiri, rasakan bahwa pada saat itu juga anda tidak dapat melihat gambar kiri sebagai huruf V. Demikianlah sedikit proses kerja otak kita. Jadi memang agak sulit untuk menuntut kreatifitas yang tinggi pada guru-guru matematika hehehehe...Proses berfikir kreatif ini dapat dilatih sejak dini dalam sistem pembelajaran anak-anak kita. Mind Mapping yang digagas oleh Tony Buzan merupakan salah satu contoh yang sangat bagus jika diterapkan dalam matematika. Misalkan kita ambil pokok bahasan Aritmatika Sosial Matematika SMP kelas VII. Di bawah ini Mind Mapping yang sudah jadi, yang penulis coba sampaikan kepada para pembaca terutama para guru matematika. Untuk membuat Mind Mapping butuh langkah-langkah yang harus dilakukan, namun itu semua sangat mudah dilakukan oleh siapapun. Coba anda lihat Mind Mapping di bawah ini. Sebagai seorang guru profesinal pasti akan dengan mudah untuk membuat hal sama pada pokok bahasan yang lainnya.Mind Mapping sangat membantu untuk pelajar yang dominan pada kecerdasan Visual Spasial, anak ini akan terbantu dengan visualisasi diagram dan gambar. Bagi anak yang mempunyai kecerdasan Naturalis yang tinggi akan sangat menyenangi contoh kasus pada ikan bandeng. Akan lebih komplit lagi jika guru memberi tugas beberapa anak menjadi pedagang, penjual dan petani bandeng. Kecerdasan Intrapersonal dan Interpersonal anak terasah disini.Pernahkah anda membayangkan siswa kelas 6 SD dapat menurunkan volume bola . Mungkin pembaca beranggapan pasti anak ini pandai atau bahkan jenius, anak-anak dengan kemampuan rata-rata semua bisa menurunkan persamaan volume bola. Perhatikan gambar di bawah :Gambar disebelah kanan adalah kegiatan belajar di MagicMathic’s, tentunya tidak serta merta anak diajarkan menurunkan rumus. Ada satu langkah yang harus kita cermati bahwa matematika sangat abstrak bagi anak-anak. Padahal tahapan belajar anak-anak masih pada operational konkret, untuk itu kita harus mengkonkretkan dengan bantuan alat peraga. Dengan menggunakan alat peraga, anak dengan bakat kecerdasan kinestetik dan visual spasial sangat terbantu.Berbagai macam terobosan dan kreativitas guru sangat diperlukan untuk memajukan pendidikan di negara kita. Sebetulnya guru juga sudah terbantu dengan banyaknya kursus matematika di masyarakat, fenomena ini sangat bagus untuk membantu pembelajaran anak-anak kita. Tetapi hanya sedikit kursus matematika yang mempunyai konsep yang jelas dalam pengembangan Multiple Intelligence anak bahkan mungkin tidak mempunyai konsep sama sekali. Tidak sedikit lembaga yang hanya menekankan drilling materi tanpa memperhatikan konsep dasar matematika dengan benar dan kecerdasan unik yang dimiliki tiap anak. Kalau kondisi ini terjadi, anak akan semakin stress dalam belajarnya dan matematika bagaikan monster yang sangat menakutkan.Berapa banyak pemikir dan jiwa kreatif yang disia-siakan, berapa banyak kekuatan otak yang terbuang percuma karena pandangan kuno dan picik kita tentang otak dan pendidikan? Sekolah telah kaku dalam mengajarkan matematika pada anak. Guru menganggap kemampuan anak sama, tipe/gaya belajar mereka sama, kecerdasan mereka diatas rata-rata semua. Atau guru tahu bahwa setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda-beda tetapi belum bisa mengajar dengan menyentuh nurani psikologis anak. Sehingga pemberian materi hanya dengan memadukan antara ceramah, penggunaan papan tulis, buku pelajaran dan LKS (Lembar Kerja Siswa ).Perlakukan anak seolah mereka sudah menjadi apa yang mampu mereka wujudkan, dengan demikian engkau membantu mereka mewujudkannya

http://www.blogger.com/profile/00674461239385886065


Posted by Aji Baroto , Published at 3:13 PM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :