Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Metroseksual

Metroseksual

BAB. I Pendahuluan
1. Latar Belakang

Ingin menjadi seperti David Beckham pesepak bola asal Inggris yang handal dan keren baik di lapangan maupun di luar lapangan? Jika jawaban anda adalah ya, maka bersiaplah untuk menghabiskan uang yang banyak untuk urusan busana, menghabiskan waktu berjam-jam didepan cermin mengurusi penampilan diri,_bahkan melebihi istrinya sendiri, Victoria "Posh" adam-mantan anggota grup musik spice girl_ dan meluangkan banyak waktu untuk menikur, pedikur, dan banyak memanjakan diri di spa maupun salon.

David Beckham tidak lagi hanya terkenal sebagai pemain klub sepakbola Real Madrid yang andal. Kini, ia juga lambang metroseksual. Lambang lelaki yang sangat memperhatikan penampilan sehari-hari. Lelaki yang sangat peduli terhadap kesempurnaan setiap jengkal tubuhnya. Lelaki yang dalam merawat tubuhnya tidak kalah dari perempuan. Memakai parfum, facial, pembersih wajah, pelembap (moisturizer), spa, atau bahkan merawat kuku-kukunya.

Manusia memang selalu menjadi objek penelitian yang menarik diberbagai bidang ilmu pengetahuan, masih banyak misteri pada diri manusia yang belum terungkap. Demikianpun perilaku manusia, banyak teori dan model-model yang telah dikembangkan agar dapat memahami perilaku yang komplek dari mahluk yang bernama manusia. Banyak teori yang sudah diciptakan untuk dapat memahami hal-hal yang mendasari seseorang untuk bertingkah laku; kenapa, bagaimana, kapan, siapa, dan dimana sajakah lingkungan atau suatu hal dapat mempengaruhi perilaku seseorang.

Diantara berbagai macam teori dan model perilaku kesehatan yang saat ini menonjol adalah Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model), Model Komunikasi atau Persuasi (Communication or Persuation Model), Teori Aksi Beralasan (Theory of Reasoned Action), Model Transteoritik (Transtheoretical Model), Precede or Proceed Model, Model difusi inovasi (Diffusions of Innovation Model), Teori Pemahaman Sosial (Social learning Theory), dan Analsisi Perilaku terapan (Applied Behavior Analysis).

Hendrik L Blum dari hasil penelitiannya di Amerika menyatakan bahwa status kesehatan seseorang itu dipengaruhi oleh 4 faktor; genetik atau keturunan, pelayanan kesehatan, lingkungan, dan perilaku. Blum menyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil yang paling besar terhadap status kesehatan; kemudian berturut-turut disusul oleh perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan yang mempunya andil paling kecil terhadap status kesehatan. Bagaimana proporsi pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap status kesehatan di negara-negara berkembang, terutama di Indonesia, masih belum ada penelitian. Namun apabila dilakukan penelitian, maka mungkin perilaku mempunyai kontribusi yang paling besar. Dr Soekidjo Notoatmodjo melakukan penelitian di kecamatan Pasar rebo Jakarta Timur tentang survei status gizi anak balita dengan menggunakan analisis stepwise, membuktikan bahwa variabel perilaku terseleksi, sedangkan variabel pendapatan per kapita (ekonomi) tidak terseleksi. Meskipun variabel ekonomi di sini belum mewakili seluruh variabel lingkungan, tetapi paling tidak pengaruh perilaku lebih besar dari variabel-variabel lain.

Faktor genetik atau keturunan merupakan faktor yang sulit untuk diintervensi karena bersifat bawaan dari orang tua. Penyakit atau kelainan-kelainan tertentu seperti diabetes mellitus, buta warna, albino, atau yang lainnya, bisa diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya atau dari generasi ke generasi. Pencegahannya cukup sulit karena menyangkut masalah gen atau DNA. Pencegahan yang paling efektif adalah dengan menghindari gen pembawa sifatnya.

Faktor pelayanan kesehatan lebih berkait dengan kinerja pemerintahan yang sedang berkuasa. Kesungguhan dan keseriusan pemerintah dalam mengelola pelayanan kesehatan menjadi penentu suksesnya faktor ini. kader desa, puskesmas, dan posyandu menjadi ujung tombak dalam peningkatan status kesehatan masyarakat.

Faktor lingkungan menempati urutan ke-3 dalam indikator kunci status kesehatan masyarakat. Ketinggian, kelembaban, curah hujan, kondisi satwa maupun tumbuhan memainkan peranan di sini. Tetapi bagaimanapun juga, kondisi lingkungan dapat dimodifikasi dan dapat diperkirakan dampak atau ekses buruknya sehingga dapat di carikan solusi ataupun kondisi yang paling optimal bagi kesehatan manusia.

Dari ke empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang, perilaku mengambil bagian yang paling besar. Perilaku mengambil bagian terbesar dari faktor penentu status kesehatan seseorang karena sesungguhnya pola hidup yang sehat dan baik akan membentuk tubuh yang kuat, sehat, serta terhindar dari penyakit. Hal-hal seperti tidak merokok, menjauhi alkohol, olah raga teratur, pola makan yang baik, istirahat yang cukup akan dapat meningkatkan imunitas atau daya tahan seseorang, sehingga meskipun lingkungan masih kurang baik, pelayanan kesehatan berkualitas rendah, dan tubuh memilikin gen atau pembawa sifat yang kurang menguntungkan dapat diminimalisir efek buruknya dengan pola hidup yang sehat dan baik.

Sebuah perilaku baru telah teramati, khususnya di daerah ibukota. Para pengusaha atau orang-orang yang telah mapan dalam karirnya banyak menghabiskan waktu dan biaya untuk melakukan perawatan diri, pemanjaan diri lebih tepatnya. Perilaku tersebut adalah metroseksual. Orang-orang metroseksual biasanya adalah orang yang memiliki karir yang cerah, kondisi finansial yang baik, dan sangat perhatian terhadap penampilan diri. Mereka suka meluangkan waktu untuk melakukan perawatan diri seperti pergi ke salon untuk menikur, pedikur, creambath; spa;dan fitnes center. Mereka juga tidak ragu untuk menghabiskan berjuta-juta rupiah untuk memperindah penampilan mereka, karena itulah pakaian, sepatu, bahkan parfum yang mereka gunakan biasanya adalah produk impor.

Seorang pria metroseksual rata-rata menghabiskan 1-2 jam di pagi hari untuk kegiatan rutin dan rela berjam-jam di salon atau spa selama week end untuk memanjakan diri (sebagai kompensasi dari kerja kerasnya selama Senin - Jum'at). Salah seorang pria metroseksual yang tergolong pengusaha muda menjelaskan rutinitas kegiatan pagi harinya itu seperti mandi, olahraga ringan, memilih baju yang sesuai, memakai face moisturiser, bedak tipis, lip gloss, parfum, dan mengoleskan gel rambut, memakan waktu 1,5 jam. Di tas kerjanya pun tidak ketinggalan dengan bedak, lip gloss, penyegar mulut, sikat gigi, parfum serta perlengkapan bisnisnya.

Itu baru dari segi waktu. Belum lagi dari biaya. Rata-rata seorang pria metroseksual menghabiskan dana Rp. 2 - 5 juta perbulan untuk memenuhi kebutuhannya. Mulai dari ke salon atau spa, membeli baju, parfum serta aksesoris lainnya. Tapi seorang pria seperti ini juga terlihat segar dan bugar karena rutin menjaga kondisi badannya dengan fitnes. Angka itu teramat wajar dan kecil bagi seorang pria berpenghasilan Rp. 30 - 50 juta perbulan. Perut tidak boleh berlemak, kerut-kerutan di wajah sebisa mungkin dihilangkan. Mereka menghalalkan penggunaan bedah plastik untuk mencapai tujuan tersebut.

(http://lautan.blogspot.com/)

Para pria penganut paham metroseksual ini tidak lagi takut disebut banci dengan menyapu bedak tipis-tipis atau sekedar mengoleskan cream tabir surya di wajahnya. Para metroseksual ini bahkan berani melakukan eksperimen dengan baju yang dipakainya. Kemeja warna pink yang diserasikan dengan dasi senada bukan tabu untuk dipakai. Lebih ekstrim lagi, ada pria metroseksual yang memakai stocking jaring-jaring dalam kesehariannya.

http://anginsavana.blogspot.com/


2. Tujuan

Menggambarkan perilaku metroseksual yang sedang berkembang di masyarakat.

Menjelaskan faktor-faktor penyebab atau pembentuk dari perilaku metroseksual.

menjelaskan dampak kesehatan dan ekonomi perilaku metroseksual.


3. Manfaat

Mendapatkan gambaran perilaku metroseksual yang sedang berkembang di masyarakat.

Mengetahui faktor-faktor penyebab atau pembentuk dari perilaku metroseksual.

Mengetahui dampak yang mungkin ditimbulkan oleh perilaku metroseksual.


4. Ruang Lingkup

Melihat gambaran perilaku metroseksual yang sedang berkembang di masyarakat saat ini (tahun 2003-2004) di daerah perkotaan atau urban khususnya terhadap para eksekutif atau enterpreneur muda dan para selebritis untuk mengetahi sebab dan dampak dari perilaku ini dari sisi kesehatan dan ekonomi.


5. Metode Penulisan

Metode penulisan kaya ilmiah ini adalah dengan melakukan studi penelitian kepustakaan baik yang beraal dari buku-buku perpustakaan, majalah, koran, artikel-artikel,maupun yang beraal dari internet.


BAB. II Tinjauan Pustaka


1. Perilaku

Menurut ahli perilaku, Skinner (1979), mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus), dan tanggapan (respon). Respon dibedakan menjadi 2, yaitu:

Respondent response atau reflexive response, adalah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut electing stimuli karena respon-respon yang relatif tetap, misalnya makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, sinar matahari membuat mata tertutup. Perangsangan yang demikian ini biasanya mendahului respon yang ditimbulkan.

Operant response atau instrumental response, adalah respon yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer karena perangsangan tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan. Oleh karena itu perangsangan yang demikian itu mengikuti atau memperkuat suatu perilaku tertentu yang telah dilakukan. Apabila seorang anak rajin belajar atau setelah melakukan suatu perbuatan memperoleh hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut, dengan kata lain responnya akan lebih intensif atau lebih kuat lagi.

Sedangkan menurut Notoatmodjo (1997), yang dimaksud dengan perilaku adalah suatu respon organisme terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut, respon ini dapat berbentuk 2 macam, yakni:

Bentuk pasif adalah respon internal, yaitu terjadi di dalam diri individu dan tidak dapat langsung dilihat oleh orang lain, seperti berpikir, tanggapan atau sikap batin, dan pengetahuan. Perilakunya sendiri masih terselubung yang disebut covert behavior.

Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Perilaku disini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata yang disebut over behavior.

Menurut Green (1980) dalam buku Notoatmodjo (1993) menganalisis bahwa perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan dimana kesehatan ini dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yakni faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). selanjutnya perilaku itu sendiri terbentuk dari 3 faktor, yaitu:

Faktor predisposisi (predisposing factors), merupakan faktor antesenden terhadap perilaku yang menjadi dasar motivasi bagi pelaku. yang masuk dalam faktor ini adalah pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai.

Faktor pemungkin (enabling factros), adalah faktor antesenden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana. faktor ini terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan, misalnya: puskesmas.

Faktor penguat (reinforcing factors), merupakan faktor penyerta yang datang sesudah perilaku, memberikan ganjaran intensif atau hukuman atas perilaku dan berperan bagai menetap atau lenyapnya perilaku itu. termasuk dalam faktor ini adalah manfaat sosial, jasmani, ganjaran nyata ataupun tidak nyata yang diterima oleh pihak lain (vicarious rewards).

(Soekidjo : 1993)


2. Model atau Teori Perilaku

Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model)

Model kepercayaan kesehatan (Rosenstock, 1974, 1977) sangat dekat dengan bidang pendidikan kesehatan. Model ini menganggap bahwa perilaku kesehatan merupakan fungsi dari pengetahuan maupun sikap. Secara khusus model ini menegaskan bahwa persepsi seseorang tentang kerentanan dan kemujaraban pengobatan dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam perilaku-perilaku kesehatannya.

Menurut model kepercayaan kesehatan (Becker, 1974, 1979) perilaku ditentukan oleh apakah seseorang: (1) percaya bahwa mereka rentan terhadap masalah kesehatan tertentu; (2) menganggap bahwa masalah ini serius; (3) meyakini efektivitas tujuan pengobatan dan pencegahan; (4) tidak mahal; (5) menerima anjuran untuk mengambil tindakan kesehatan.

Model Komunikasi atau Persuasi (Communication or Persuation Model)

Model komunikasi atau persuasi (Mc guire, 1964) menegaskan bahwa komunikasi dapat dipergunakan untuk mengubah sikap dan perilaku kesehatan yang secara langsung terkait dalam rantai kausal yang sama. Efektivitas upaya komunikasi yang diberikan bergantung pada berbagai input (atau stimulus) serta output (atau tanggapan terhadap stimulus). Menurut model komunikasi atau persuasi, perubahan pengetahuan dan sikap merupakan prekondisi bagi perubahan perilaku kesehatan atau perilaku-perilaku yang lain. Variabel-variabel input meliputi: sumber pesan, pesan itu sendiri, saluran penyampai, dan karakteristik penerima , serta tujuan pesan-pesan tersebut. Variabel-variabel output merujuk pada perubahan dalam faktor-faktor kognitif tertentu, seperti pengetahuan, sikap, pembuatan keputusan, dan juga perilaku-perilaku yang dapat diobservasi.

Teori Aksi Beralasan (Theory of Reasoned Action)

Teori aksi beralasan (Fishbein dan Ajzen, 1975, 1980) menegaskan peran dari niat seseorang dalam menentukan apakah sebuah perilaku akan terjadi. Teori ini secara tidak langsung menyatakan bahwa perilaku pada umumnya mengikuti niat dan tidak akan pernah terjadi tanpa niat. Niat-niat seseorang juga dipengaruhi oleh sikap-sikap terhadap suatu perilaku , seperti apakah ia merasa perilaku itu penting. Teori ini juga menegaskan sikap "normatif" yang mungkin dimiliki orang-orang; mereka berpikir tentang apa yang akan dilakukan orang lain-(terutama, orang-orang yang berpengaruh dalam kelompok) pada suatu situasi yang sama.

Model Transteoritik (Thranstheoretical Model)

Model trnasteoretik (atau "Model Bertahap", "Stages of Change"), sesuai namanya , mencoba menerangkan serta mengukur perilaku kesehatan dengan tidak bergantung pada perangkap teoritik tertentu. Proschaska dan kawan-kawan (1979) mula-mula bermaksud menjelaskan proses apa yang terjadi bila peminum alkohol berhenti minum alkohol, dan juga terhadap proses dalam berhenti merokok. Penelitian ini mengidentifikasikan 4 tahap independen: prekontemplasi, kontemplasi, aksi, dan pemeliharaan. "Prekontemplasi" mengacu pada tahap bila seseorang belum memikirkan sebuah perilaku sama sekali , orang itu belum bermaksud mengubah suatu perilaku. Dalam tahap "kontemplasi", seseorang benar-benar memikirkan suatu perilaku, namun masih belum siap untuk melakukannya. Tahap "aksi" mengacu kepada keadaan bila orang telah melakukan perubahan perilaku, sedangkan "pemeliharaan" merupakan pengentalan jangka panjang dari perubahan yang telah terjadi. Dalam tahap "aksi" maupun "pemeliharaan", "kekambuhan" dapat terjadi, yaitu individu kembali pada pola perilaku sebelum "aksi"

Model transteori sejalan dengan teori-teori rasional atau teori-teori pembuatan keputusan dan teori ekonomi yang lain, terutama dalam mendasarkan diri pada proses-proses kognitif untuk menjelaskan perubahan perilaku.

Precede or Proceed Model

Selama lebih dari satu dasawarsa terakhir, Lawrence Green dan rekan-rekannya mengembangkan Precede or proceed model, yang sekarang ini terkenal untuk merencanakan program-program pendidikan kesehatan (Green, Kreuter, Deeds, dan Patridge, 1980; Green & Kreuter, 1991) meskipun model ini mendasarkan diri pada model kepercayaan kesehatan dan sistem-sistem konseptual lain, namun model precede merupakan model "sejati", yang lebi mengarah kepada upaya-upaya pragmatik memgubah perilaku kesehatan dari pada sekedar upaya pengembangan teori. Green dan rekan-rekannyamenganalisis kebutuhan kesehatan komunitas dengan cara menetapkan 5 diagnosis yang berbeda, yaitu diagnosis sosial, diagnosis epidemiologi, diagnosis perilaku, diagnmosis pendidikan, dan diagnosis administrasi atau kebijakan.

Difusi Inovasi

Model difusi inovasi (Rogers & Shoemaker, 1971; Rogers, 1973) menegaskan peran agen-agen perubahan dalam lingkungan sosial, oleh karena itu mengambil fokus yang agak terpisah dari individu sasaran utama.

Teori Pemahaman Sosial (Social Learning Theory)

Teori pemahaman sisial menekankan pada hubungan segitiga antara orang (menyangkut proses-proses kognitif), perilaku, dan lingkungan dalam suatu proses deterministik resiprokal (atau kausalitas Resiprokal) (Bandura, 1977; Rotte, 1954) kalau lingkungan menetukan atau menyebabkan terjadi perilaku kebanyakan, maka seorang individu menggunaka proses kognitifnya untuk menginterpretasikan lingkungannya maupun perilaku yang dijalankannya, serta memberikan reaksi dengan cara mengubah lingkungan dan menerima hasil perilaku yang lebih baik. oleh karena itu teori pemahaman sisial menjembatani jurang pemisah antara model-model kognitif, atau model-model yang berorientasi pada pembuatan keputusan rasional, dengan teori-teori lain diatas.


3. Metroseksual

Metroseksual. Etimologi: dari kata Yunani, metropolis artinya ibu kota plus seksual. Definisi: sosok narsistik dengan penampilan dandy, yang jatuh cinta tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga gaya hidup urban.

Evolusi tren gaya pria bisa disiratkan melalui film-film James Bond. Di era 1970-an, Mr. Bond diperankan Sean Connery yang sangat macho, dengan rahang keras dan kadang berewokan. Medio 1980-an agen rahasia Inggris ini tampil lebih lembut dan necis, sebagaimana diwakili Roger Moore (dan Timothy Dalton). Memasuki dekade 1990-an, sosok agen 007 diwakili Pierce Brosnan yang sangat dendi. Busana dan aksesorinya menjadi semakin stylish dan branded, rambutnya pun sangat kelimis. Dan, jika diperhatikan, Bond di era 1990-an dan 2000 lebih kerap mematut diri di depan kaca dibanding pada era sebelumnya. Bisa dikatakan, Brosnan adalah proto-metroseksual.

Kesamaan ini bukan sekadar kebetulan. Brosnan menjadi perwujudan sosok Bond berbarengan dengan mulai munculnya tren metroseksual di daratan Eropa dan Amerika. Istilah metroseksual sendiri diperkenalkan Mark Simpson, kolomnis fashion Inggris, dalam bukunya, Male Impersonators: Men Performing Masculinity, pada 1994 untuk menggambarkan kelompok anak muda berkocek tebal yang hidup di kota besar (metropolis) atau di sekitarnya, sangat menyayangi bahkan cenderung memuja diri sendiri (narcisstic), serta sangat tertarik pada fashion dan perawatan tubuhnya. Kulit mereka mulus, lembut dan harum. Wajahnya yang halus tampak dipoles bedak tipis, sementara kukunya dicat dan bibirnya dioles lip balm -- bahkan kadang terlihat mengilap karena dipulas lip gloss.

Meski sama-sama pesolek dan pemuja diri sendiri, metroseksual ini tak bisa disamakan dengan dendi. Bahkan, Simpson menyebut dendi adalah gaya kaum bangsawan abad ke-18. Pasalnya, meski sama-sama rapi, harum, dan gemar berlama-lama di depan cermin, gaya busana para dendi cenderung konservatif dan mengikuti pakem, sementara kaum metroseksual justru dicirikan dengan keberaniannya mendobrak aturan dan bereksperimen dengan fashion.

Namun, jangan tergesa-gesa memberi label negatif kepada kaum metroseksual. Mereka adalah pekerja cerdas yang penuh percaya diri serta sangat peduli pada keluarganya dan teman-temannya. Umumnya mereka pasangan setia yang penuh perhatian pada keluarganya. Mereka bukan figur ayah yang gagah, kulitnya berminyak dan tubuhnya beraroma tembakau atau keringat, tahu segala hal, dan penentu segala keputusan yang tak bisa dibantah. Jauh dari itu, kaum metroseksual adalah suami yang tak ragu menggandeng dan mencium istrinya di muka umum, ayah yang tubuhnya selalu segar dan wangi, gemar merangkul anak-anaknya, sama-sama belanja di mal, menonton film atau berburu pernik-pernik aksesori. Pendeknya, mereka adalah teman yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Ferry Salim dan Jeremy Thomas, misalnya, acap terlihat di mal dan bioskop sambil menggandeng anak dan istrinya.

Tren metroseksual, sebagaimana tren-tren lainnya, mungkin akan berlalu. Namun, jejak-jejak yang ditinggalkannya akan membekas dalam. Tren ini menyadarkan kita, bahwa kehidupan mempunyai banyak sisi: selain berkarya, ada juga saat bermanja; selain kantor dan kolega, ada pula rumah dan keluarga. Semuanya membutuhkan keseimbangan. Kita percaya bahwa fenomena ini tidak sekadar menghasilkan peluang pasar, tetapi juga generasi baru yang lebih akrab dengan orang tuanya, dan penuh perhatian pada diri sendiri ataupun lingkungannya.

(http://www.swa.co.id/detail_topfeatures.asp?id=666)


4. Contoh Pria-Pria Metroseksual

Meski awalnya sempat dipandang dengan tatapan heran, nyatanya fenomena metroseksual terus merebak. Mulanya tren ini hanya menjangkiti para model, artis dan orang-orang media, belakangan ia terus meluas ke kalangan olahragawan, pebisnis (khususnya eksekutif muda kota besar), pengacara, bahkan diplomat! Majalah The Economist edisi 5 Juli 2003 mengungkapkan, di Amerika Serikat jumlah kaum metroseksual mencapai 30%-35%. Mayoritas dari mereka adalah pekerja profesional dan eksekutif muda.

Beckham bukan satu-satunya pria pesolek. Di deretan pesohor saja ada Brad Pitt, George Clooney, Antonio Banderas, Ian Thorpe, Tom Cruz, dan masih banyak lagi. Tren metroseksual juga bukan monopoli New York, London, Paris atau kota-kota dunia lainnya. Di Indonesia pun gaya ini tengah digandrungi pria metropolitan – terutama di Jakarta, Surabaya dan Bandung. Ketika beberapa waktu lalu Majalah Femina menggelar ajang pemilihan pria terseksi di Indonesia, nama-nama yang muncul: Ferry Salim, Ari Wibowo, Nicholas Saputra, Jeremy Thomas dan Adjie Massaid. Semuanya bagian dari kalangan selebriti yang memang harus selalu tampil berdandan, merawat diri, suka pesta, hedonis, dan aktif mengikuti fashion. Bukan rahasia lagi, waktu dandan yang dibutuhkan penyanyi berambut gimbal Marcell Siahaan sampai tiga kali lebih lama ketimbang istrinya, Dewi "Dee" Lestari Mangunsong. Salah satu anggota trio Rida-Sita-Dewi dan penulis sejumlah novel laris ini cuma butuh waktu 20 menit untuk merias wajah dan urusan dandan lainnya.

Marcell tidak hanya rajin ke salon untuk mengeramas, meng-cream bath dan mengelabang rambut gimbalnya, tapi juga untuk facial, manikur dan pedikur. Busananya pun harus serba padu padan (matching) hingga ke pakaian dalam. Begitu pula Ferry Salim, Ari "Ale" Sihasale, Jeremy Thomas, Nico Siahaan, Anjasmara dan Roger Danuarta. Para eksekutif pun tak mau kalah dari para pesohor tadi. Lihat saja gaya Alino Sugianto (Country Manager Ericsson), Tommy Pratama (Promotor Original Production), Dino Patti Djalal (diplomat), Johanes Dermawan (pengusaha sejumlah kafe), Ari Batubara (PT Wiraswasta Gemilang Indonesia, penyalur/distributor Valube dan Pennzoil), Nico Gunze (pemilik Nico Nico Intimo Lingerie, Kemang), dan banyak lagi yang lain.

"Sebagai entertainer, saya dituntut untuk tampil prima dan tidak ingin mengecewakan fans saya," terang Ferry. Dia menegaskan, sebelum fenomena metroseksual itu merebak, memperhatikan perawatan tubuh sudah dilakukan sejak masa-masa di bangku SMA. Ferry sudah rajin melakukan creambath, spa, facial, manicure, dan pedicure. "Semua perawatan itu rutin saya lakukan setiap bulan. Facial, manicure, pedicure, dan potong rambut dilakukan istri sendiri. Sedangkan sisanya, yaitu creambath dan spa, saya lakukan di salon langganan yang berada di Jakarta," terang Ferry.

Untuk urusan perawatan tubuh, Ferry sedikit bisa menghemat. Maklum, sang istri, Merry Prakasa, adalah lulusan kosmetologi dari sebuah perguruan tinggi di AS. Khusus jadwal ke spa, Ferry selalu melakukannya sebulan dua kali di luar kota. Selain bermanfaat menjaga kebugaran tubuh, spa diyakini mampu menjaga keharmonisan rumah tangga. Pria kelahiran Palembang pada 8 Januari 1967 itu juga menganggap olahraga sebagai poin penting untuk menjaga kecantikan tubuh selain pergi ke salon. Karena itu, Ferry mempunyai jadwal rutin fitnes dan berenang lima kali seminggu. Tubuh bugar. Jangan lupa pakaian. "Untuk saat santai, saya suka memakai celana jins dipadukan kemeja. Namun, untuk setiap acara resmi, saya selalu menggunakan jas," tutur pecinta jas Armani itu. Sebagai finishing touch agar tampil percaya diri, ayah dari Brenda Nabila Salim dan Brandon Nicholas Salim itu selalu tidak melupakan parfum. "Khusus parfum, memang saya selalu memakai yang impor, menggunakan aroma rempah atau dipadu dengan buah-buahan. Karena itu, setiap ke luar negeri saya selalu membeli parfum minimal tiga jenis," terang pemilik tubuh ideal seberat 70 kg dan tinggi 180 cm itu.

Untuk perawatan tubuh itu, Ferry mengaku memakan dana yang cukup besar. Tapi, itu bukan masalah karena yang terpenting adalah penampilan prima tiap kesempatan. "Kalau memang butuh perawatan, berapa pun akan saya bayar," papar Ferry.

Ferdy Hasan lain lagi. Presenter kondang itu mengaku rutin merawat tubuh sejak di bangku SMP. Ferdy juga berpendapat, pria juga boleh merawat tubuh. "Saya rasa itu lumrah. Apalagi zaman sekarang tak ada lagi istilah tabu bagi pria yang melakukan perawatan tubuh. Ini sudah seperti kebutuhan. Pria kan juga perlu memperhatikan penampilan," ujar pria ganteng itu. Karena sudah biasa melakukan perawatan sejak SMP, Ferdy merasa bahwa bersolek sudah menjadi pola hidupnya hingga kini. Dia mengaku tak canggung dan malu setiap pergi ke salon. "Masyarakat sekarang kan lebih terbuka. Sekarang sudah banyak pria yang pergi ke salon untuk melakukan perawatan tubuh," kata Ferdy. Apalagi, imbuh dia, sebagai public figure, Ferdy memang merasa perlu memperhatikan penampilan. Karena itu, host acara Selamat Datang Pagi itu rajin sekali merawat diri. Sekali dalam dua pekan, dia mencukur rambutnya. "Kalau creambath, biasanya sebulan sekali. Kalau facial, ya seperlunya saja. Bisa satu atau dua bulan sekali. Tergantung kondisi. Kalau ingin, ya saya lakukan," terangnya.

Untuk urusan perawatan wajah, Ferdy sering melakukan sendiri di rumah dengan bantuan istrinya. "Biasanya saya pakai bahan alami saja, seperti alpukat (avokad) dan bengkuang," kata pria yang ramah dan murah senyum itu. Selain rutin potong rambut, creambath, dan facial, pria dua anak tersebut juga sering mengunjungi spa untuk aroma terapi dan massage. "Tapi, itu nggak mesti. Saya ke sana kalau memang benar-benar perlu saja," imbuhnya. Tetapi, aku Ferdy, dirinya tak melulu pergi ke salon untuk mendapatkan perawatan tubuh. "Kadang saya memanggil ke rumah dan kadang ke salon," kata pria yang punya salon langganan di bilangan Kebon Jeruk itu.

Meskipun merawat tubuh itu menghabiskan banyak uang, pria berusia 30 tahun itu ternyata tak punya bujet khusus. "Kalau lagi pengin dan perlu, ya tinggal lakukan saja." Bahkan, Ferdy sering pergi ke salon bersama istrinya. "Safina (istri Ferdy) tidak keberatan kalau saya merawat tubuh. Malah, dia sering ikut pas saya mau pergi ke salon," jelas presenter kuis itu. Bau badan? Untuk menangkal tamu yang acap datang tak diundang itu, demikian Ferdy, "Aku menggunakan deodorant yang tidak beraroma, juga parfum." Dia menyebut dua merek parfum favoritnya.

(http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=54121)

Aries Iskandar

Sosok Wangi di Dunia Bisnis

"Munculnya fenomena pria metroseksual bukan hal yang aneh," ujar Aries Iskandar, Presdir PT Creativ Seven Inspirasi atau C7 ini. Maklum, pria 29 tahun ini terbiasa melihat kaum pria yang sudah lebih peduli dengan penampilan ketika ia berada di AS -- sekitar 10 tahun ia tinggal di sana untuk meraih gelar sarjana dan master. Biasanya, kaum pria yang sangat detail dalam merawat tubuhnya adalah para eksekutif yang bekerja di bidang keuangan, konsultan hukum, serta profesional yang bekerja di industri hiburan. Karena tuntutan pekerjaanlah juga yang mendorong mereka menampilkan dirinya yang terbaik, mulai dari ujung kepala hingga kaki.

Memang bukan sekadar penampilan, tapi yang lebih penting, menurut Aries, adalah aspek kesehatan dan kebugarannya. "Dan untuk itu, saya merasa tidak sayang kalau harus mengeluarkan dana besar," kata insinyur dan master of science dalam operation research yang menganggarkan Rp 1-2 juta untuk perawatan tubuh dan Rp 2-3 juta per bulan untuk busana ini.

Bukan berarti harus mempunyai tubuh berotot seperti Rambo memang. Namun, setidaknya, Aries tidak ingin terlihat berlemak, khususnya di seputar perut. "Biarpun badan besar, tetapi penuh tonjolan lemak sana-sini dan otot terlihat lembek, aduh, sama sekali tidak menarik," kata pria yang rajin melakukan aerobik, tenis dan renang yang saat ini terdaftar sebagai anggota Celebrity Fitnes di EX Building, bersebelahan dengan Plaza Indonesia, Jakarta.

Tubuh yang sehat dan bugar, dikatakannya, akan meningkatkan daya konsentrasi diri pada pekerjaan. Dan, membantu menimbulkan citra diri yang positif. Demikian pula, cara berpakaian dan penampilan diri secara keseluruhan, adalah awal yang menentukan dalam pergaulan. "First impression dapat mendukung kesuksesan kita," kata profesional yang berpenghasilan Rp 30–50 juta/bulan ini.

Akan tetapi, hal ini bukan berarti tidak menjadi diri sendiri. Tetap berdandan sesuai dengan karakter diri dan kesukaan kita. Aries sendiri lebih comfortable dengan gaya kasual dan sportif. Namun, untuk momen atau acara resmi, ia tidak keberatan jika harus pakai jas lengkap dengan aksesorinya, serta sepatu resmi yang senada dengan warna jasnya. "Untungnya, saya bekerja di bidang kreatif, yang tidak mengharuskan busana formal," kata pemakai parfum Hugo Boss dan Issey Miyake ini.

Sama seperti kebanyakan pria metroseksual, Aries menganut prinsip work hard, play hard. Setelah bekerja keras, ia menikmati hasilnya dengan memanjakan diri. Juga, merawat badan agar merasa rileks, segar, sehat, nyaman, menarik, wangi dan rapi. "Saya ke spa rata-rata sebulan sekali. Saya merasa nyaman dan segar kembali setelah tubuh dipijiti, mandi sauna, creambath, dan refleksi," ungkap lajang yang merasa kerepotan mencari spa khusus pria di Jakarta.

Untuk bersantai sambil ketemu klien Aries suka ngopi di Starbucks yang jaringannya tersebar luas, atau nongkrong di Blowfish yang berlokasi di seputar Mega Kuningan Jakarta, minimal sekali seminggu. "Peluang bisnis bisa lahir dari tempat-tempat seperti ini," ujar pengagum George Soros dan penggemar Chaterine Zetta Jones ini.

Selain kemampuan otak, menurut Aries, dunia bisnis juga membutuhkan sosok yang menarik, sehat dan bugar. Kuku-kuku harus terawat dan bersih. Kulit mulus. Rambut terpotong rapi. Badan wangi. Gigi rapi dan putih, karena rajin menggosok gigi serta memakai dental floss secara teratur. "Semua itu merupakan bagian dari tuntutan dunia kerja," tutur pria berkacamata yang rajin berkunjung ke salon, Peter Saerang atau Skin Tech, minimal sebulan sekali ini. Bujetnya, Rp 500 ribu-1 juta.

Aries mengaku tidak seheboh pria metroseksual sesungguhnya yang sangat detail layaknya perempuan dalam merawat tubuhnya, mulai dari kepala hingga kaki, bahkan memakai krim malam sebelum tidur, misalnya. Namun, ia mengaku rata-rata 1-2 jam meghabiskan waktu untuk ritual paginya, mulai dari mandi hingga memadupadankan busana, sebelum berangkat ke kantor. Ia juga tidak menyangkal kalau isi tasnya, selain perlengkapan kerja, juga sisir, parfum dan lip gloss.

Di akhir pekan, ritual memanjakan dirinya lebih seru, berendam di bak mandi bisa 30 menit lebih. Pakai aromaterapi dan sabun cair yang dilarutkan di air. Sambil berendam, ia biasanya baca-baca sambil diiringi musik. "Kadang-kadang sampai ngantuk dan jatuh tertidur," ujar penikmat jaz serta jenis musik yang diusung U2, Sarah Mc Lehan dan Dewa ini.

Khusus membaca, ia meluangkan waktunya minimal 6 jam dalam seminggu untuk buku-buku yang kebanyakan tentang bisnis. Selain majalah bisnis seperti Business Week versi bahasa Inggris, Warta Ekonomi dan SWA, ia juga melahap Men`s Health yang banyak membahas tentang kesehatan dan kebugaran tubuh. Kemudian, Cosmopolitan dan Dewi untuk menambah wawasan tentang fashion dan gaya hidup.

Mulyadi

Rapat di Ruang Pijat

"Melakukan perawatan tubuh dan menjaga penampilan tak lain adalah tuntutan pekerjaan," ujar Mulyadi. Pengacara muda, berusia 34 tahun, lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta 11 tahun silam ini tidak menyangkal kalau berdandan dan tampil rapi bisa memberikan kepuasan pribadi, di samping membahagiakan pasangan.

Sebagai pengacara dan pemilik law firm yang ia dirikan bersama rekannya dengan bendera Maqdir & Mulyadi, berkantor di Menara BNI, Jakarta, Mulyadi merasa bahwa kerja kerasnya perlu dihargai dengan memanjakan diri. Secara berkala ia mengunjungi spa di Hotel Shangri-La dan di salah satu tempat di bilangan Jl. Gunung Sahari, Jakarta. Yang menarik, meeting dengan klien pun bisa dilakukan sambil berendam di whirpool. Membicarakan kasus pun bisa sambil massage. "Sebulan bisa dua kali, sekali datang bisa 4-5 orang," ungkapnya.

Tidak harus di ruang rapat memang, membicarakan bisnis pun kerap dilakukan di music lounge atau kafe. Tempat favorit Mulyadi adalah di lobby lounge Hotel Shangri-La, Hotel JW Mariot, atau Hotel Mulia. Kadang-kadang juga di coffee shop yang berlokasi di plaza seperti Starbucks atau Coffe Bean. Untuk urusan yang lebih fun bersama teman dan keluarga, Mulyadi memilih Pasir Putih atau News Café, yang berlokasi di bilangan Kemang, Jakarta.

Di sela-sela kegiatannya yang padat, peraih master hukum dari Universitas New South Wales, Australia, 1996 ini selalu menyediakan waktu untuk urusan perawatan tubuh. Ia rajin ke salon, tidak hanya untuk potong rambut, tapi juga creambath, facial, manikur dan pedikur. Sekali datang ia bisa menghabiskan dana tak kurang Rp 500 ribu.

Di rumah ia bisa lebih setengah jam melakukan perawatan tubuh. Rambut adalah prioritas utama, berikutnya adalah mulut dan gigi, kulit wajah, kulit tubuh, dan seterusnya hingga kuku. Ia menyebut beberapa merek untuk urusan ini, Marks & Spencer (deodoran), Calvin Klein (after shave lotion), Biore (scrub wajah), dan L’Oreal (hair spray). Semua itu yang menyediakan istrinya, sedangkan produk fashion ia belanja sendiri.

Untuk jas ia pilih Hugo Boss dan Ermenegildo Zegna, tapi koleksinya terbanyak Giorgio Armani. Koleksi dasinya sekitar 25, terbanyak merek Versace tapi favoritnya Alfred Dunhill. Untuk belanja sepatu, ia kerap ke Linea yang menjual merek-merek sepatu asal Italia. Untuk pengharum tubuh, ia suka Christian Dior, Calvin Klein dan Giorgio Armani. Namun, ia mengaku bukan kolektor parfum walau dalam tas dan mobil Mercynya selalu terdapat parfum. "Referensi saya adalah istri dan teman-teman," ujar Mulyadi yang tidak malu mengakui bahwa ilmu bersoleknya ini tertular rekan pengacara seniornya, Adnan Buyung Nasution dan O.C. Kaligis.

Untuk mendapatkan tubuh yang bugar, Mulyadi rajin mengunjungi fitnes club di Hotel Shangri-La, di mana ia menjadi anggotanya, dua kali seminggu. Pemilik tubuh tinggi langsing ini juga penggemar joging, golf dan boling. Sekali waktu ia juga suka berarung jeram di Sungai Citarik, Jawa Barat. Tak kurang Rp 2,5 juta/bulan untuk urusan olah raga dan kebugaran ini.

Bagi penyuka novel karya John Grisham, yang banyak mengulas soal hukum ini, berdandan saat ini bukan lagi menjadi monopoli kaum wanita. Di saku celana atau jas ayah seorang putri ini, selalu terselip sisir, penyegar mulut, sapu tangan dan permen mint. Ada juga PDA dan ponsel Sony Ericsson yang bisa tiga kali setahun ia ganti. Di dalam tas Feragamo Salvatore, selain dokumen, ada juga handuk kecil, kaus T dan dasi cadangan.

Mulyadi termasuk laki-laki yang suka berlama-lama berendam di bathup, bisa sampai 45 menit. Namun, itu tidak dilakukannya setiap hari. "Paling tidak dua kali seminggu," ujarnya. Agar tubuhnya bisa benar-benar istirahat di waktu malam dan kembali segar keesokan harinya, di kamar tidur ia juga pakai aromaterapi. Mulyadi menganggap gambaran dirinya sebagai orang yang romantis, realistis, easy going, open minded dan loyal. Sebagai pengacara, tampil chic adalah tuntutan, apalagi praktik hukumnya di bidang hukum korporasi, litigasi, arbitrasi, bankruptcy, dan merger-akuisisi, yang hampir semuanya menyangkut persoalan perdata.

Tantowi Yahya

Who Wants To Be A Metroseksual

Tantowi Yahya mengaku sudah lama tampil chic dan wangi. Menurutnya, tampil fashionable, segar dan wangi bukan hanya dominasi wanita. "Laki-laki juga harus," tuturnya. Terlebih dengan status dirinya saat ini sebagai selebriti yang tidak ingin kucel, bau dan berantakan.

Tiap hari ia bisa sampai menghabiskan waktu setengah jam di kamar mandi. Walau begitu, bangun pagi sekitar waktu subuh ia tidak terus langsung mandi. Kebersihan dari ujung rambut sampai kaki ia perhatikan betul. Untuk mandi ia memakai Dove, sedangkan untuk rambut memakai sampo perawatan khusus, Intergreen. "Kebugaran tubuh adalah prioritas," tutur presenter Who Wants To Be A Millioner ini. Urutan prioritas lain bagian tubuh yang dianggap penting adalah kebersihan mulut dan gigi, rambut, kulit wajah, tubuh, kuku dan organ pribadi.

Untuk deodoran dan aftershave, ia menggunakan Tommy Hilfiger, juga Bvlgari. Scrub wajah dan tubuh, memakai keluaran Australia, Simple, sementara untuk urusan cat rambut, L`Oreal. Sunblock dan face moisturizer-nya merek ROC, keluaran Swiss. Tiap bulan bisa Rp 1-2 juta untuk konsumsi produk perawatan. "Istri saya biasanya yang mengurus segala kebutuhan itu," ujar kelahiran Palembang 29 Oktober 44 tahun silam ini yang pertama kali dikenal sebagai presenter acara kuis di TVRI, Gita Remaja. Namun, ia kerap juga punya waktu untuk belanja sendiri, biasanya 1-2 kali tiap bulan.

Mantan Manajer Promosi BASF yang kini Direktur Pengelola di perusahaan miliknya sendiri, PT Ciptadaya Prestasi yang membidangi rekaman, rumah produksi, manajemen artis, promosi, dan event organizer ini, juga mengaku kerap bertandang ke spa. Di akhir pekan, bersama istrinya, Dewi, ia suka datang ke Paras di bilangan Pondok Indah. Ia bisa menikmati tubuhnya dipijat, karena untuk relaksasi dan menghilangkan stres. Mandi sauna juga ia lakukan di sana. Pengeluaran sekali ke spa bisa sampai Rp 1 juta.

Beberapa salon beken di Jakarta, Lu vaze, Green Door dan Peter Saerang, kerap ia kunjungi hampir tiap akhir pekan. Bukan cuma untuk gunting rambut, tapi juga mengecat rambut, facial treatment serta manikur-pedikur. Ongkos yang ia habiskan hampir sama untuk ongkos ke spa. Untuk kebugaran tubuh, Tantowi menjadi anggota di Executive Club, Hotel Hilton Jakarta, dan rutin ke sana untuk fitnes seminggu sekali. Dengan frekuensi yang sama ia juga suka joging. Pembaca majalah A+, Matra, Soccer dan Tabloid Bola ini bisa menghabiskan dana hingga Rp 1,5 juta untuk urusan kebugaran tiap bulan.

Sebagai pria metroseksual, Tantowi juga selalu punya waktu bertandang ke kafe atau coffe shop. "Paling sering di Hotel Mulia, paling tidak seminggu sekali," tuturnya. Hotel tersebut jadi tempat kesenangannya untuk bertemu klien dan membicarakan bisnis. Untuk refreshing, Tantowi memilih Bugs Café di Pondok Indah.

Saat di panggung atau sedang mengisi acara kuis, terkadang juga untuk keperluan bisnis, Tantowi memilih kemeja Cerutti atau Hugo Boss untuk menunjang penampilannya. Jas Giorgio Armani, dasi Bvlgari atau Boss, dan pantolan lebih sering ia jahitkan sendiri dengan harga sekitar Rp 35 juta.

Harsya Subandrio

Bekal Perlengkapan Mandi

Malam, 7 Maret lalu, ketika acara penganugerahan 1rst Women of The Year ANTV, tampak Miranda Goeltom berpasangan dengan Harsya Subandrio, membacakan nominasi dan pemenang untuk kategori pendidikan. Penampilan mereka begitu anggun, mewah dan glamor.

Terlebih Harsya yang masih muda, ganteng, dan berbadan tegap dengan tinggi dan berat 89 kg - 180 cm. Duda beranak satu ini memang tidak asing bagi pemirsa televisi, karena ia pembawa acara misteri Percaya Nggak Percaya, yang disiarkan ANTV. Suaranya juga akrab didengar setiap Jumat dan Sabtu di Radio One Jakarta, karena ia memang penyiar di sini.

Bagi kelahiran 25 Januari 1974 ini, penampilan sangat penting. Apalagi di Indonesia yang, menurutnya, rata-rata orang pertama kali melihat penampilan. Apalagi, karena lingkungannya adalah dunia entertainment, penampilan yang baik dari atas sampai bawah menjadi semacam keharusan. "Agar orang bisa menerima kita," katanya.

Harsya merasa harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaannya. Ilmu ini ia dapatkan dari ayahnya, yang selalu menyiapkan dasi dan kemeja di mobilnya, sehingga ketika ayahnya bertemu klien, ia bisa cepat menyesuaikan diri. "Ayah saya, meski ke mal saja, polo shirt-nya selalu dimasukkan," katanya. Meski penampilan baik, yang diajarkan ayahnya adalah kepala harus "berisi" agar klop dengan penampilannya. Ia mengakui juga banyak mengamati penampilan yang rapi dari rekannya sesama pembaca acara, Daddo Parus.

Perawatan, bagi Harsya, juga sangat penting. Bahkan, ia mengaku jika menyangkut masalah perawatan tubuh, ia bisa malu sendiri. Ia memiliki perawatan mandi yang banyak sekali, yang selalu dimasukkannya dalam tas. Kesehariannya, ia selalu membawa tas punggung yang berisi perlengkapan untuk perawatan, penampilan serta hobi. Isinya, selain sabun cair yang beroma laki-laki, ada pasta gigi, shaver, dan pelembab dari produk L’Oreal yang harus dibawa ke mana-mana karena kulit mukanya tergolong kering. Bahkan, khusus untuk pelembab Harsya mempunyai beberapa jenis. "Memang orang bilang kayak perempuan, atau terlalu berlebihan. Tapi, menurut saya normal saja," katanya sambil tertawa.

Di tas tersebut juga harus ada sikat badan untuk mandi yang berbentuk sarung tangan dan mudah dipakai seperti yang ia pakai sehari-hari. Ia mengaku keringatnya banyak, apalagi aktivitasnya penuh, maka ia harus meluangkan waktu untuk mandi di bawah shower dan menyikat badannya. Sementara untuk mendapatkan cukuran yang bersih, ia menggunakan pelemas dari Gillete yang berbentuk gel. Itu belum termasuk seperangkat alat gunting kuku satu set untuk manikur-pedikur. Ada juga handuk dan baju ganti. "Kalau di dalam tas tidak ada salah satunya, saya akan panik," katanya.

Ia juga mempunyai tiga pasang pakaian tidur dari Jockey yang selalu ia pakai, meski ia ke luar kota. Untuk celana dalam ia memilih yang jenis boxer merek Next, Jockey, Homme atau Calvin Klein. "Sebenarnya saya tidak melihat mereknya, tapi produknya memang long lasting," kata pemakai sepatu Next untuk yang resmi dan Adidas atau Nike untuk yang sportif.

Masalah baju, menurutnya, secara tidak sengaja ia menyukai produk-produk seperti Guess dan Next. Untuk celana ia suka memilih G2000, meski sering menjahitkan sendiri. Untuk jas atau jaket, ia memilih Cerruti, Next atau Hugo Boss. Jam ia memilih yang besar dengan merek DKNY, Guess, Next, Nike dan Casio. Kacamata sunglasses-nya adalah merek Oakcley. Parfum yang digunakan, dari dulu ia konsisten memakai Fahrenheit.

Olah raga yang digelutinya sejak dulu sofbol, tapi karena kesibukannya, ia sering bolos latihan. "Tapi, pada prinsipnya saya senang semua olah raga," kata pria berkulit gelap yang rutin push up dan sit up setiap bangun dan menjelang tidur ini.

Harsya termasuk yang memperhatikan jenis makanan. Karena setelah check up, ternyata kadar kolesterolnya tergolong tinggi sehingga harus menghindari daging, nasi dan kentang goreng. "Sekarang kalau makan di luar, saya harus mencari sayur. Sebisa mungkin ada ikannya," katanya.

Ia mengaku saat ini tidak sempat ke spa karena dibutuhkan waktu yang lebih panjang, sementara diakuinya mobilitasnya sangat tinggi. Harsya juga tidak suka ke salon, ia lebih memilih ke barber shop langganannya yang cocok dengan seleranya, yaitu Pax di Grand Wijaya dan Citicuts di Sarinah Building. Sebulan, ia bisa potong rambut model cepak 2-3 kali.

Menyangkut kegiatan bersama teman-teman, ia mengaku era clubbing sudah berakhir. Sebagai gantinya, ia senang nonton dan suka nongkrong di coffee shop. Harsya bersyukur dengan pekerjaannya ini, karena ia bisa menentukan kapan waktu sibuk dan santai. Setiap pagi ia menghidupkan televisi Star World untuk menonton tayangan Oprah Winfrey selama satu jam dan kemudian berolah raga. Jika tidak ada jadwal syuting atau kegiatan lain, ia bahkan bisa melakukan hobinya yang lain, menonton film-film kegemarannya di rumah atau belanja DVD. "Saya sangat menikmati hidup," kata pengendara BMW seri 318 ini.

Nico Genze

Citra di Balik Celana Dalam

Wajahnya kerap tampil di halaman mode majalah, padahal Nico Genze bukan model. Akan tetapi, ia memang tidak jauh-jauh dari dunia fashion. Pria berdarah Jerman ini memang perancang lingerie dan pakaian dalam untuk pria, tapi bukan produk massal. Memulai bisnisnya di Indonesia sejak 2001, Niconico Intimo, nama butiknya, kini memiliki 7 gerai di Jakarta dan dua gerai di Bali, serta 10 konter di department store di beberapa kota besar.

Kegiatan Nico banyak tersita untuk mendesain produk dan mengurus tokonya. Produksinya dilakukan di Modena, Italia. Ia juga harus aktif membuat strategi pemasaran dan bekerja sama dengan para desainer lain serta beberapa majalah untuk urusan promosi.

Dalam kesehariannya, ia bangun pukul 7 pagi. Kemudian push up atau sit up sekitar 10 menit, mengecek jadwal kegiatan hari itu, kemudian makan pagi. Menu sarapannya, yoghurt, telur mata sapi dan pancake, kadang-kadang makanan lain ala Eropa. Ia mengaku tidak melakukan diet, malah ada usaha menambah berat badan -- saat ini berat dan tingginya 75 kg – 182 cm. Ia mengaku beruntung hidup di Indonesia karena makanannya adalah makanan yang sehat, baik sayuran maupun buahnya. "Saya mencoba makan makanan yang sehat. Saya menghindari makanan yang terlalu banyak minyaknya," katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Berangkat ke kantor pukul 08.30, Nico selalu bersemangat memulai aktivitas sehari-harinya, baik mendesain, memimpin rapat ataupun ketemu klien. Habis makan siang, kadang-kadang ia meluangkan waktu sekitar satu jam untuk ke Martha Tilaar untuk creambath atau facial treatment. "Kalau di Bali saya bisa melakukannya minimal seminggu sekali, karena waktunya longgar dan tidak banyak rapat," ujar pria yang hobi berenang dan berselancar ini.

Rutin berolah raga tapi ia mengaku tidak suka ke gim atau fitnes centre, karena menurutnya terlalu monoton. Makanya, ia memilih olah raga yang dinamis, seperti tenis, soccer atau squash, yang bisa dilakukannya di akhir pekan.

Baginya, kesehatan adalah penting. Penampilan juga tidak kalah penting. "Niconico bukan hanya produk, tapi juga image. Maka yang akan dilihat bukan hanya apa produknya, dalam hal ini underwear, tapi siapa desainernya," katanya. Maka, ia harus rutin mencuci muka, dan merek sabun kesukaannya, Clinique. Untuk after shave, ia menggunakan produk merek Bvlgari. Parfum, tepatnya eau de toillete favoritnya adalah Lanvin, Joop, Versace dan Aramis.

Ia mengaku juga sangat perhatian terhadap perawatan gigi, yakni selain rajin menyikat gigi, menggunakan mouth wash dan shower gigi, juga secara berkala mengunjungi dokter gigi. "Perawatan memang harus dimulai selagi muda," ujar kelahiran 7 November 1974 ini memberi alasan.

Untuk baju, ia cenderung memilih yang konservatif kasual yang disesuaikan dengan karakternya. "Saya bukan termasuk orang yang mengikuti tren fashion," katanya. Ia yakin dengan personal style. Kendati demikian, ia mengoleksi beberapa branded fashion dengan item-item yang rada konservatif dan "aman", dari Marc Jacobs, Helmut Lank dan Gucci. Untuk celana ia suka merek Prada, sementara jasnya merek Ermenegildo Zegna dan Hugo Boss. Kacamata sunglasses Gucci dan Armani. Ia mengaku mengoleksi dasi, kini jumlahnya 100-an. Menurutnya, semua merek ada di situ. Sepatu yang dipakainya merek Gucci dan Prada. "Yang paling penting dalam penampilan adalah sepatu. Sebab, pertama kali, people judge you by your shoes," katanya.

Sebenarnya, Nico juga mempunyai koleksi fashion yang tidak bermerek. Dan itu tidak menjadi persoalan kalau pantas dikenakan, dan matching dengan penampilan secara keseluruhan. Yang menyenangkan adalah saat memburu barang-barang itu. Sering ia mendapatkannya di luar kota, karena di Jakarta ia tidak sempat. Bisa di Bali, atau bahkan luar negeri seperti Singapura, Jerman dan Kanada. "Hanya produk perawatan yang dibeli di dalam kota," ujarnya.

Untuk urusan bersenang-senang, ia tidak lagi clubbing yang menurutnya bukan masanya lagi bagi orang seusianya. "Paling ke Cinnabar atau Burgundy," katanya menyebut kafe dan wine bar di bilangan Segi Tiga Emas, Jakarta.

(http://www.swa.co.id/detail_topfeatures.asp?id=669)

BAB. IV Pembahasan


Metroseksual memang merupakan suatu perilaku yang unik di daerah perkotaan. Sesungguhnya diperlukan penelitian yang terarah untuk dapat melakukan analisa fenomena tersebut. Faktor-faktor pembentuk perilaku ini perlu dikaji lebih jauh dan dampak terhadap kesehatannya pun perlu dicari tahu.

Meski baru terbatas pada daerah ibukota, bukan suatu hal yang tidak mungkin bahwa suatu saat masyarakat luas akan mengadopsi perilaku ini.

1. Sebab-Sebab Perubahan

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, perilaku manusia merupakan obyek penelitian yang sangat kompleks, karena itulah saya akan membahas perubahan perilaku orang-orang metroseksual melalui model atau teori yang sudah ada.

a. Lingkungan

Dalam teori nativisme, perkembangan perilaku semata-mata hanya tergantung pada faktor lingkungan dan tidak mengakui adanya pembawaan yang dibawa lahir. John locke, tokoh empirisme mengungkapkan teori yang disebutnya tabula rasa yaitu jiwa manusia yang baru lahir itu adalah seperti meja atau papan lilin yang belum tergores. Akan menjadi apa bayi itu kelak sepenuhnya tergantung pada pengalamanpengalaman apa yang memenuhi jiwa anak tersebut. Aliran ini disebut juga aliran optimisme.

Lingkungan sering disebut miliu, environment atau juga disebut nurture. Lingkungan dalam pengertian psikologi adalah segala apa yang berpengaruh dalam diri individu dalam berperilaku. Lingkungan turut berpengaruh terhadap perkembangan pembawaan dan kehidupan manusia. Lingkungan dapat digolongkan menjadi:

lingkungan manusia. Yang termasuk kedalam lingkungan ini adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat termasuk didalamnya kebudayaan, agama taraf kehidupan, dan sebagainya.

lingkungan benda. Yaitu benda yang terdapat disekitar manusia yang turut memberi warna pada jiwa manusia.

lingkungan geografis. Latar geografis turut mempengaruhi corak kehidupan manusia. Masyarakat yang tinggal di daerah pantai mempunyai keahlian, kegemaran, dan kebudayaan yang berbeda dengan manusia yang tinggal di daerah yang gersang.

Kebanyakan orang-orang metroseksual adalah orang-orang yang dituntut oleh lingkungan untuk dapat selalu tampil prima dan penuh percaya diri. Maka dari itulah mereka harus bisa mencerminkan karakteristik yang penuh dengan karisma karena mereka adalah para eksekutif muda yang harus memiliki hubungan interpersonal dan jaringan atau networking yang baik, atau mereka mungkin adalah para entertain yang harus memiliki penampilan yang "menjual".

Jadi dapat dikatakan bahwa lingkungan telah membentuk kepribadian mereka terutama lingkungan sosial: para penggemar, sutradara, ataupun relasi bisnis.

b. Persepsi

Dalam teori health belief model seseorang akan berperlaku tergantung dari: (1) percaya bahwa mereka rentan terhadap masalah kesehatan tertentu; (2) menganggap bahwa masalah ini serius; (3) meyakini efektivitas tujuan pengobatan dan pencegahan; (4) tidak mahal; (5) menerima anjuran untuk mengambil tindakan kesehatan.

Keyakinan atau kepercayaan (belief) yang ada pada diri merekalah yang menggerakan mereka untuk berperilaku. Dengan berperilau seperti itu, mereka yakin bahwa hal tersebut akan banyak membantu mereka dalam pekerjaan ataupun dalam bidang lainnya.


2. Dampak Kesehatan Metroseksual

Perilaku memegang peranan terbesar dalam pembentukan status kesehatan seseorang. Orang-orang metroseksual adalah orang-orang yang sangat perhatian terhadap kondisi fisiknya. Banyak diantara mereka yang pergi ke tempat fitness center secara rutin, melakukan suatu olah raga secara teratur, makan makanan bergizi dengan teratur, dan banyak lagi perilaku mereka yang pada dasarnya merupakan perilaku yang sehat. Mereka juga sangat perhatian dengan personal higiene atau kebersihan pribadi.

Walau terkadang ada yang mengidentikan mereka dengan orang-orang yang suka "clubbing" atau sedikit suka dengan minum beralkohol, tetapi selama hal tersebut hanya sekedar rekreasi akhir pekan dan minum dalam jumlah yang minim atau tidak sampai membuat mereka kecanduan, maka hal tersebut tidak akan banyak mengganggu kesehatannya, selama olah raga rutin, pola makan bergizi yang baik, dan perawatan diri yang baik masih menjadi pola perilaku yang mendasari hari-hari mereka.


3. Dampak Ekonomi Metroseksual

Hal yang cukup mengganjal dari perilaku metroseksual adalah budaya konsumtif yang berlebihan. Disadari atau tidak orang-orang metroseksual cenderung berlebihan atau boros dalam menggunakan uangnya. Berbagai perawatan ekstra yang seharusnya tidak perlu mereka dapatkan, dilakukannya pula.

Mengingat bahwa para metrosexsual ini adalah orang mapan dan berpenghasilan menengah ke atas, budget Rp. 3 juta per bulan untuk membeli pakaian dan assesioris nya adalah buget paling minim. Sementara untuk perawatan wajah dan pembentukan badan, pria metrosexsual membutuhkan dana sekitar Rp. 1,5 juta sampai Rp2 juta per bulan.

Hal tersebut diperparah karena produk-produk yang dikonsumsinya rata-rata adalah produk impor atau luar negeri. Jika saja ia mau membeli produk dalam negeri, maka jumlah devisa yang bisa didapatkan oleh negara tentunya akan meningkat.

Patut dicurigai, sebenarnya kapitalisme globallah yang menciptakan fenomena metroseksual, bukan metroseksual itu yang muncul lebih dulu kemudian diikuti oleh produk-produk yang mendukungnya. Buktinya, relasi antarmanusia yang makin emosional pun antara lain tercipta oleh kemajuan teknologi telepon selular. Orang menjadi makin emosional dengan short message service (SMS). Bukan sebaliknya, SMS itu muncul karena terdorong oleh relasi antarmanusia yang makin emosional.

Jadi, sebenarnya metroseksual adalah perilaku yang cukup sehat dan baik, karena sudah sewajarnya jika seorang pria memperhatikan penampilan dirinya secara fisik, apalagi jika hal tersebut bisa membantu atau meningkatkan mereka dalam urusan pekerjaan. Hal yang patut menjadi catatan adalah perilaku konsumtif yang perlu dikurangi atau disiasati.

Mungkin pria metroseksual seksual yang bisa dijadikan teladan adalah Aa Gym, yang sukses dalam karirnya (sebagai da’i maupun enterpreneur) yang memperhatikan penampilan diri (Aa Gym disebutkan sebagai salah satu pria metroseksual dalam sebuah tayangan infotainment).


BAB. IV Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Metroseksual adalah suatu perilaku yang terjadi pada pria yang mapan secara finansial maupun karir yang berlebihan dalam memperhatikan penampilan dirinya.

Banyak hal yang bisa mempengaruhi perilaku seseorang. Perilaku metroseksual mungkin terbentuk karena pengaruh persepsi pribadi ataupun lingkungan.

Dengan pola hidup yang sehat seperti makan teratur dan bergizi, olah raga yang rutin, istirahat ataupun rekreasi yang cukup, serta perawatan diri yang baik. Status kesehatan orang-orang metroseksual dapat dikatakan baik.

Pola konsumsi yang berlebihan dan perawatan yang tidak diperlukan dari orang-orang metroseksual menjadi hal yang perlu mendapat perhatian.

Perilaku metroseksual adalah perilaku yang bagus selama pola hidup yang sehat seperti olah raga teratur, pola makan yang bagus, dan istirahat atau rekreasi yang cukup tidak diiringi dengan sikap berlebihan atau konsumtif.


Saran

Perlu adanya penelitian yang baik mengenai perilaku metroseksual.

Civitas akademika, khususnya dosen dan mahasiswa FKM haruslah menjadi orang yang paling peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat.


Daftar Pustaka

Notoatmodjo, Soekidjo Dr. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku. 1993. Andi offset. Yogyakarta

Purwanto, Heri. Pengantar Perilaku Manusia untu Keperawatan. 1998. EGC. Jakarta

Graeff, Judith A, dkk. Komunikasi untuk Kesehatan dan Perubahan Perilaku. 1996. UGM Press. Yogyakarta

Bandura A. Social Learning Theory. 1977. Prantice Hall. New York

SWA 06/XX/18-31 MARET 2004

Rosenstock. I. M. Social Learning Theory. 1974. Prentice Hall. Engelwood cliffs. NY

Mc Guire W. J. Inducing Resistance to Persuation: Some Contemporary Approach Advances in Experimental Social Psycology. 1964. Academic Press. San Diego CA

Fishbein, M & Ajzen. Belief, Attitudes, Intention, and Behavior: an Introduction to Theory and Research. 1975. Addison-Wesley. Reading MA

Green L DKK. Health Education Planning: a Diagnostic Approach. 1980. Mountain View. CA: Mayfield

Roger. E & Shoemaker F. Communication of Innovation. 1971. Frec Press. New York

Sabtu, 3 Januari 2004 Suara Merdeka

http://www.kapanlagi.com/h/0000006685.html

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=54121

http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2004032800280131

http://www.swa.co.id/detail_topfeatures.asp?id=670

http://www.kompas.com/kesehatan/news/0310/25/054739.htm

http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0308/31/latar/525418.htm

http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0401/25/aksen/818989.htm

http://www.e-psikologi.com



Posted by Health Care , Published at 5:17 PM and have 1 comments

1 komentar :

Kang Boim mengatakan...

wah kayak lagi nonton kupas tuntas, semua dibahas mengenai metroseksual....awalnya saya kurang begitu paham dengan istilah ini....tks infonya mnambah wawasan nh di seputar dunia metroseksual..he..he...
salam kenal