Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Pengaruh-pengaruh dalam pengasuhan (Influences on Parenting)

Pengaruh-pengaruh dalam pengasuhan (Influences on Parenting)

Sumber : Martin, C.A., Colbert, K.K.1997. Parenting A Life Span Perspective. New York : McGraw-Hill

Ketika seseorang menjadi orangtua, mereka membawa kombinasi sifat-sifat pribadi (personal traits) dan pengalaman-pengalamannya. Individu yang menjadi orang tua tersebut mempunyai tingkatan kematangan, energi, kesabaran, kecerdasan, dan sikap. Karakteristik ini akan mempengaruhi kepekaan mereka terhadap kebutuhan anak, harapan terhadap diri mereka sendiri dan anak-anaknya, dan kemampuan mereka untuk melaksanakan tuntutan peran pengasuhan (Dix dalam Martin & Colbert, 1997)

Orangtua mempunyai ide tersendiri tentang bagaimana anak berkembang, belajar, dan perasaan terhadap proses pengasuhan. Kepercayaan ini merupakan dasar berpikir untuk merawat anaknya. Kepercayaan tersebut meliputi tahapan perkembangan, ide akan pentingnya pengaruh keturunan (heredity) dan lingkungan, harapan akan hubungan orangtua – anak, dan pikiran mengenai apa mendasari pengasuhan yang baik dan yang buruk (Goodnow & Collins, 1990; McGillicuddy-DeLisi & Sigel, 1995 dalam Martin & Colbert, 1997).



Pola Asuh Orang Tua

Kompetensi sosial dan performa akademik seorang anak berhubungan dengan pola asuh yang diterapkan orangtua (Papalia & Olds, 1995). Menurut Diane Baumrind (dalam Berns 1997), ada tiga macam pola asuh.

a. Pola asuh autoritharian

Biasanya tampak pada orangtua yang sangat menuntut kontrol perilaku dan sopan santun, sesuai dengan aturan-aturan ketat dan harapan yang ditetapkan oleh mereka sendiri. Anak diharapkan untuk patuh, dan standar orangtua diterapkan secara keras, memaksa, dan melalui hukuman-hukuman. Pola asuh seperti ini dapat menghalangi anak untuk berkembang secara maksimal sesuai dengan potensinya, dan mempengaruhi kemampuan anak untuk dapat membuat keputusan sendiri. Anak dapat merasa frustrasi, kesal, maral, dan menjadi tidak berani, tergantung, dan merasa tidak yakin pada dirinya sendiri.

a. Pola asuh autoritatif

Tampak di mana kontrol yang kuat dilatih dan diterapkan dengan cara yang penuh kasih sayang dan dalam suasana yang mendukung. Tujuan orangtua adalah menghargai dan meningkatkan kebebasan dan kemandirian anak, sekaligus memastikan bahwa perilaku mereka sesuai dengan standar yang ada di masyarakat. Pada pola ini, ada proses memberi dan menerima secara verbal, kontrol diberikan berdasarkan strategi yang rasional dan berorientasi pada masalah, serta orangtua bersedia memberikan penjelasan kepada anak tentang keputusan-keputusan yang diambil oleh orangtua.

Orang tua ini fleksibel namun tegas, memelihara kontrol dan disiplin namun memberikan alasan yang tepat untuk disiplin tersebut. Mereka juga mengkomunikasikan harapan-harapan mereka untuk anaknya, namun memberi kesempatan untuk berdiskusi. Disiplin yang mereka terapkan juga menekankan tanggung jawab, kerja sama, dan pengaturan diri.

Pola asuh seperti ini cenderung menghasilkan anak yang kompeten, memiliki tanggung jawab secara sosial, yakin pada dirinya, dan mandiri. Pada kondisi yang positif seperti inilah anak dapat mengembangkan rasa percaya diri yang tinggi dan konsep diri yang positif.

b. Pola asuh permisif

Orangtua yang permisif biasanya menghargai ekspresi diri dan pengaturan terhadap diri sendiri. Mereka tidak banyak memberi tuntutan, mengijinkan anak untuk sebanyak mungkin memonitor aktivitas mereka sendiri. Mereka memandang dirinya sebagai sumber (resources), menghindari diberlakukannya kontrol, dan tidak mendorong anak untuk mematuhi peraturan yang ditentukan oleh pihak eksternal. Mereka tidak mengontrol, tidak menuntut, dan cukup hangat. Namun demikian, anak biasanya akan tetap merasa tidak puas karena merasa tidak nyaman tanpa adanya kontrol, sehingga ia memberikan banyak energi pada usaha untuk mengontrol orangtua dan mencoba membuat orangtua mengontrol mereka. Hasilnya, anak menjadi tidak mampu menghadapi rasa frustrasi, mengalami kesulitan dalam menerima tanggung jawab, tidak dewasa secara sosial-emosional, dan kurangnya kontrol diri serta rasa percaya diri.



Gangguan Emosi

National Dissemination Center for Children with Disabilities dalam (www.nichcy.org ) menyatakan bahwa gangguan emosi (emotional disturbance)“ adalah kondisi yang menunjukkan adanya satu atau lebih karakteristik berikut yang terjadi pada periode yang cukup lama yang berpengaruh terhadap performa akademis anak. Kondisi tersebut adalah:

1. Ketidakmampuan untuk belajar yang tidak berhubungan dengan kecerdasan, sensori ataupun kesehatan.

2. Ketidakmampuan untuk membangun atau menjaga hubungan interpersonal dengan teman-teman sebaya dan guru.

3. Perilaku atau perasaan yang tidak sesuai pada kondisi lingkungan yang normal.

4. Adanya perasaan tidak senang atau depresi yang menetap.

5. Adanya kecenderungan simptom fisik atau ketakutan.



Karakteristik anak yang mengalami gangguan emosi

Penyebab gangguan emosional tidak bisa ditentukan dengan pasti, meskipun beberapa faktor seperti keturunan, kerusakan otak, diet, stress, dan keluarga mungkin menjadi penyebabnya, penelitain tidak menunjukkan faktor-faktor tersebut menjadi penyebab utama gangguan emosi. Karakteristik anak yang mengalami gangguan emosi dapat dilihat sebagai berikut:

• Hyperactivity (attensi yang rendah, impulsif)

• Aggression behavior (berkelahi)

• Withdrawal (kurang dapat menginisiasi interaksi dengan orang lain, cemas)

from exchanges or social interaction, excessive fear or anxiety);

• Immaturity (Menangis yang tidak jelas, temper tantrums, poor coping skills); and

• Learning difficulties (prestasinya rendah)

Sementara itu, Cooper (dalam Farrel, 1995) menyatakan bahwa gangguan emosi adalah hasil interaksi yang kompleks antara faktor kontekstual dan aspek yang dibawa individu pada situasi tertentu. Konteks yang berpengaruh dalam hal ini adalah rumah, sekolah, dan kepribadian anak sendiri. Pada lingkungan rumah, terdapat beberapa pengalaman yang mungkin terjadi pada anak, antara lain:

- kurangnya perhatian orangtua terhadap sekolah

Possibly related posts: (automatically generated)

* Ada Apa Dengan Kesulitan Belajar….?

This entry was posted on February 20, 2008 at 8:46 am and is filed under PSIKOLOGI POPULER. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.


Posted by Aji Baroto , Published at 12:06 PM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :