Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Musibah Dalam Rumah Bisa Berakibat Fatal

Musibah Dalam Rumah Bisa Berakibat Fatal

Oleh: Marjohan, M.Pd

Guru SMAN 3 Batusangkar

“Mujur tidak dapat diraih dan malang tidak dapat ditolak”, adalah ungkapan yang sering kita dengar, ini berlaku pada semua orang dan termasuk bagi orang tua penulis sendiri. Sejak kematian ayah penulis karena stroke tujuh tahun lalu, ibu penulis sering berucap “apakah aku masih bisa hidup dalam waktu setahun atau dua tahun ini ?”

Kematian dan kelahiran memang suatu hal yang ghaib. Tidak ada orang yang tahu “kapan dan dimana” ia akan mati. Bagi ibu penulis, dalam kenyataan, malah ia meninggal tujuh tahun setelah kematian sang ayah. Semua orang mungkin bisa kaget dalam menyambut kematian anggota keluarga, apalagi bila mereka tidak terbiasa dalam menyiapkan mental.

Pendidikan umum yang kita peroleh (kecuali bagi mereka yang sekolah di pendidikan jalur agama) mulai dari bangku SD, SMP, SMA dan terus ke tingkat Sarjana, Pascasarjana dan Doktoral, hanya membuat kita tahu banyak tentang ilmu duniawi semata. Kebanyakan pemahaman ilmu agama kita hanya gara-gara bekal ilmu yang kita peroleh pada saat duduk di bangku SD dan SMP saja. Beruntunglah bagi mereka yang melakukan otodidak, sehingga setelah dewasa kualitas pemahaman agama mereka tidak setara dengan anak kecil lagi.

Penulis bisa sedikit menghibur diri, karena pernah menjadi remaja mesjid/ remaja surau, sehingga sempat menambah ilmu agama- menghafal banyak do’a, ayat pendek/ juz amma, dan tata cara menyelenggarakan jenazah. Saat mobil ambulance meraung-raung menuju rumah sakit, penulis ikut di dalamnya dan berkosentrasi mengulang-ulang hafalan do’a dan shalat jenazah.

Penulis berfikir bahwa mungkin tahun ini (2010) adalah tahun kematian buat ibu. Setiap kali pulang kampung/ mengunjungi ibu, beliau selalu menyampaikan tentang kemunduran fisiknya- mata yang susah untuk melihat, fikiran yang sangat pelupa dan perasaan tubuh yang sering kurang stabil. Penulis memang melihat sorot matanya yang sering kosong dan kulit pipi yang agak gembul.

Jam satu dini hari, minggu pertama bulan puasa, ada telepon dari kampung mengatakan bahwa ibu jatuh terpeleset dan tertimpa air mendidih, “Ya Allah, mengapa ini bisa terjadi ?”. Menjaga keselamatan orang tua lanjut usia (lansia) seharusnya ibarat menjaga keselamatan anak-anak balita- jauhkanlah hal hal yang membahayakan dari keselamatan jiwanya. Sebuah petaka terjadi pada ibu penulis, saat ia ingin pergi ke kamar kecil, ia terpeleset dan terhenyak (terduduk) ke dalam wadah yang berisi air mendidih.

Malam itu adik penulis menjemput ibu dan melemparkan amarahnya atas kecerobohan family dalam menjaga ibu. “Jangan begitu…., marah-marah tidak akan mengatasi masalah dan tidak mungkin kami punya maksud jelek untuk mencederai orang tua kami sendiri”, kata salah seorang family. Itu namanya taqdir. Taqdir yaitu peristiwa buruk dan peristiwa baik yang bisa terjadi dalam kehidupan setiap orang.

Malam itu ibu penulis dijemput dan dibawa dengan mobil carteran ke rumah sakit Adnaan WD di Payakumbuh. Perawat segera memasang infuse dan pipa cateter untuk menyalurkan urine ke kantong urine. Kulit yang sudah tua terlihat lebih parah bila melepuh. Kemudian penulis dan beberapa anggota keluarga bergantian menjaga dan menemani ibu yang terbaring di dalam kamar bedah.

Terus terang penulis separoh berani melihat luka bakar yang terlihat begitu parah. Wilayah bakarnya cukup luas, mulai dari punggung terus ke panggul dan (maaf) terus ke wilayah kemaluan- perih bukan. Kadang-kadang kulitnya melengket ke kain dan berdarah bila terkelupas. Posisi ibu untuk tidur jadi serba susah, miring susah, telentang susah dan tengkurap susah, karena luka bakar melingkari bagian bawah tubuh. “Ya, ampun lebih aku wafat saja saat itu”, keluh ibu agak putus asa.

Hari itu ibu tampak bosan tidur dengan posisi tengkurap dan ia ingin berubah posisi. “Bismillahirrahmanirrahim…, one-two-three”. Kami mengangkat tubuh ibu dan ibu meraung ibarat anak kecil. Ya memang sakit karena ada lagi kulit yang melengket terkelupas dan kembali berdarah. Luka bakar lansia memang lama sembuhnya.

Aroma luka bakar ibu agak menyengat penciuman, kami menyewa orang yang terampil membersihkan, karena kami sebagai anak laki-laki (penulis) tidak tahu banyak apa yang harus dibersihkan- namun kami juga ikut membersihkan bab (buang air besarnya) nya. Setelah aroma amis ibu hilang, orang-orang tidak enggan lagi untuk mendekat.

Setelah terbaring hampir dua minggu tanpa banyak bergerak, akibatnya ibu menjadi resah dan stress. Ibu terbiasa jarang mengeluh, namun beliau terdengar ngomong sendiri- barangkali itu adalah sebagai kompensasi untuk mengatasi rasa sakit, bosan dan stress. Penulis dan family yang lain, memegang jari jemari atau mengusap dahi ibu dan mengajaknya ngobrol tentang masa lalu yang indah dan mengungkapkan betapa rasa sakit ibu juga kami rasakan bersama sama. Ibu bisa tersenyum dan jadi lega.

Akhirnya luka bakar ibu mulai mongering dan tinggal lagi masa-masa penyembuhan untuk beberapa hari lagi. Ibu sudah banyak tersenyum, dan bisa bercanda. Perawat pun melepaskan pipa infuse dari tangan ibu. Saat itu penulis memutuskan untuk pulang sebentar untuk mengontrol anak-anak yang sedang berpuasa ke Batusangkar.

Lagi-lagi telpon (Hape) bordering, “Ibu sudah meninggal dunia…!”. Mulut penulis spontan berkomat-kamit melantunkan do’a untuk menenangkan hati, sambil members-bereskan rumah dan anak-anak dan menunggu keputusan.

Keputusannya adalah bahwa jenazah ibu dimandikan dan dikafankan, juga disholatkan, saja di rumah sakit. “mengapa begitu..?’. Setelah gempa melanda daerah Padang dan Pariaman tanggal 31 September tahun lalu, itu membuat rumah-rumah kami yang di Lubuk Alung separoh hancur dan merusak dapur serta sumur. Akhirnya dari rumah sakit Adnaan WD Payakumbuh, jenazah ibu dilarikan lagi dengan ambulan dan penulis menyusul dari batusangkar. Arus mudik orang yang pulang kampung untuk berlebaran sedikit mengganggu kelancaran transportasi.

Jenazah ibu disholatkan lagi di Lubuk Alung. Sanak family semuanya hening dan mereka menunggu penulis yang terlambat datang selama satu jam. Penulis tidak sempat ikut sholat jenazah, namun penulis akan melakukan sholat ghaib sore itu atas mayat ibu tercinta.

Penulis mewakili adik-kakak dan keluarga lain dalam menyampaikan kata-kata maaf dan bela sungkawa. Penulis tidak bisa melihat siapa yang hadir, kecuali menatap tubuh ibu yang terbungkus dengan kain kafan. Penulis sempat meraba wajah ibu dari balik kafan, dengan perasan lirih. Kemudian penulis ikut menggotong ibu menuju kuburan, saat itu suasana terasa begitu sunyi.

Adik, keponakan dan bertiga dengan penulis meluncur ke dalam kuburan untuk menyambut jazad ibu yang diturunkan dari tandu. “satu…dua…tiga”, Alhamdulillah jazad ibu cukup ringan. Mungkin karena di hari hari tuanya ibu cukup rajin sholat sunat dan berzikir. Penulis ikut meletakkan jasad ibu dengan rasa hati yang pilu. Sekali-sekali penulis meraba tangan ibu terus ke pundak dan kepala ibu. Secara spontan bibir penulis bergetar dan berbisik, “ibu…..aku mencintai, menghormati dan menyayangimu sepenuh hati. Ibu…., Bila anakmu banyak khilaf dalam bertindak dan bertutur kata sehingga melukai hatimu, maka maafkanlah anakmu ini…., Ibu…ini sentuhan ku yang terakhir atas jasad mu,…selamat jalan dan maafkanlah aku ibu…!”. Tidak terasa air mata penulis pun jatuh berderai. Kuburan ibu makin padat dan penulis ke luar dengan berat hati.

Enam September itu penulis ikhlas sekali melepas kepergian ibu menuju Sang Pencipta, dari pada ibu menderita lebih lama di kamar bedah. Ternyata luka bakar ibu belum begitu sembuh, karena masih ada sedikit noda darah terpercik dari berkas lukanya yang terlihat dari kafannya. Malam itu penulis tidak bisa tidur, rasanya ingin lagi bisa bersama ibu di dunia, tetapi itu tidak mungkin. Penulis membayangkan hari hari indah- saat ibu datang ke sekolah, saat ibu memberi penulis semangat hidup jikalau sedang stress, saat penulis telah mendapatkan gadis pilihan dan minta pendapatnya, dan masih ada sejuta kenangan bersama ibu.

Memiliki ibu dan ayah yang masih hidup itu begitu indah. Andai kematian mereka masih bisa ditunda karena kita mampu merawatnya maka lebih tepat kita rawat orang tua yang telah lansia dengan penuh bijaksana. Kepada mereka yang masih punya ibu dan bapa, berbuat baik dan bermanja-manjalah selagi beliau masih hidup. Namun jauhi hal hal yang membahayakan beliau agar musibah tidak segera merenggut nyawanya.




Posted by Aji Baroto , Published at 9:44 PM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :