Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Kiat Agar Menulis Terasa Segar

Kiat Agar Menulis Terasa Segar

Oleh Drs. Marijan
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta

Bagi calon penulis ataupun penulis pemula walaupun ada dorongan semangat yang tinggi dari dalam jiwanya sendiri akan tetapi sering kali ada saja hal- hal yang menghambat kelancaran menulis. Anehnya, hal-hal dimaksud sebagian besar justru datang dari dalam dirinya sendiri. Niat mau menulis sering mengalami erosi , kurang piawai dalam memicu ide, menggunungnya sikap malas, seringnya menguap begitu saja ide yang muncul, kurangnya menambah energi membaca dan tidak segeranya mencoba menulis adalah deretan persoalan yang menghambat terbentuknya tulisan.

Pertama, Bulatkan Niat Menulis

Tidak sedikit guru yang belum memulai menulis apabila berjumpa saya buru-buru mengatakan ,” Saya berniat menulis, tetapi belum sempat.” Teman lain pun nimbrung ,” Saya juga berniat menulis tetapi tak ada yang mengajari.” Dan masih banyak lagi guru yang berkata senada hanya karena mereka belum menulis.

Apa yang dapat dikatakan tentang mereka ? Agaknya ada sesuatu yang mengerucut dari mereka yaitu kesamaan ada niat mau menulis tetapi hanya ada di bibir saja. Padahal, niat itu tidak harus diucapkan lewat bibir. Niat itu urusan pikiran yang didukung oleh hati. Nah, menulis karya ilmiah yang baik tidak dapat dilakukan dengan asal-asalan tanpa diawali dengan niat yang mantap. Niat itu peletak dasar menulis. Semua tahapan menulis menumpang di atasnya.

Apabila Anda ingin menulis itu terasa segar, bulatkan niat Anda untuk menulis. Sebagai guru yang ingin menulis janganlah karena hanya ingin mendapatkan angka kredit pengembangan profesi akan tetapi susunlah kekuatan Anda untuk menjadi penulis yang baik dan bermutu. Kekuatan itu bersumber pada niat. Niat itu harus dibesarkan karena niat yang hanya kecil tak kuat mengangkat beban kemalasan yang selalu menumpang di dalam hati dan pikiran orang pada umumnya dan guru pada khususnya.

Kedua, Piculah Ide Anda

Ide atau gagasan itu bisa muncul di mana dan kapan saja. Ide bisa muncul mungkin dipicu oleh keadaan yang terlihat, terdengar, terasakan, dialami dan dibicarakan. Ide memang bisa muncul mungkin karena sengaja direnungkan akan tetapi kalau sesuatu yang direnungkan itu terlihat, terdengar, terasakan dan dibicarakan orang lain akan lebih terpicu muncul menjadi sebuah ide yang mudah dikembangkan.

Oleh karena itu sebenarnya Anda bisa memicu ide melalui banyak pengamatan terhadap lingkungan. Pengamatan dapat diartikan sebagai kegiatan membaca buku, koran, majalah, internet, mendengar radio, ceramah kotbah, nara sumber dalam seminar ditambah renungan situasi yang baru saja diterimanya ( Andreas Harefa, 2002).

Ketika di pagi hari selama perjalanan berangkat kerja sejauh kurang lebih 35 km banyak sekali ide yang muncul tiba-tiba pada pikiran saya. Hal seperti ini sering sekali saya alami . Terlebih ketika saya berjalan dengan kecepatan 40 km / jam , ide itu seakan datang mengeroyok mengerumuni saya. Sungguh perjalanan lambat yang justru sebagai pemicu munculnya ide pada pikiran saya.

Ketika sedang jongkok di kamar WC dan ketika akan tidur adalah saat-saat yang sering kehadiran ide. Bacaan dan gambar di koran tidak sedikit yang sering juga menjadi pemicu ide.

Sebagai contoh ketika saya mendengarkan khotbah Idul Fitri tentang kedamaian umat akan membawa berkah, ide saya terpicu untuk saya tuangkan dalam bentuk artikel . Maka muncullah artikel saya berjudul ” Peace Educaration , Embrio Pendidikan Budi Pekerti .” Tulisan ini benar-benar pengembangan ide dari hasil mendengarkan khotbah. Sebelum mendengarkan khotbah, ide itu sama sekali tidak direnungkan atau tidak direncanakan. Suasana seperti inilah yang dapat dikatakan sebagai pemicu murni.

Contoh lain, ketika saya bersepeda pulang dari Solo melihat ada gerombolan pelajar yang nongkrong di pinggir jalan di Klaten tampak garang yang menakutkan, seketika itu muncul ide ingin menulis . Sampai di rumah saya tulis artikel berjudul ” Agresi Pelajar dan Anak-anak Kita .”

Contoh satu lagi, ketika ada bekas murid yang bertanya dengan bahasa Jawa ”ngoko” dan bersikap seperti layaknya teman sebaya, terpiculah ide untuk menulis artikel pendidikan. Tak sampai ada pergantian minggu muncullah tulisan saya berjudul ” Mengembalikan Pendidikan Kepribadian yang Hilang .”

Ringkasnya asal Anda ” hemat ” dengan hasil pengamatan Anda dan rajin merenungkan hasil pengamatan , maka ide itu akan terpicu terus-menerus tanpa ada putus-putusnya. Nah, apabila Anda bisa bersikap demikian maka akan terwujud sesuatu yang segar dan enjoy. Sesuatu itu adalah menulis.

Ketiga, Singkirkan Sikap Malas Membaca

Kemajuan suatu bangsa mempunyai korelasi positif dengan kemauan dan kemampuan warga negaranya dalam kegiatan yang disebut membaca. Kemauan dan kemampuan membaca sangat erat hubungannya dengan sikap kritis dan reaktif terhadap kejadian di lingkungannya. Dengan kata lain dapat diartikan untuk kemajuan bangsa diperlukan masyarakat yang tidak malas membaca.

Dimikian juga guru yang ingin menulis karya ilmiah tidak bisa lepas dari kemauannya membaca buku, majalah, buletin, koran dan membaca lingkungan secara langsung. Dengan membaca, informasi baru akan diterima. Dengan membaca , tumbuh motivasi ingin meniru atau melakukan petunjuk dari yang dibaca. Dengan membaca wawasan pengetahuannya bertambah luas. Dengan membaca, inspirasi muncul di mana-mana.

Nah sebaliknya, sikap malas membaca akan membunuh kreativitas, inspirasi tak pernah menetas, pengetahuan tetap terbatas, motivasi tergilas dan wawasannya pun akan kandas. Guru yang mau menulis tentu dapat mengambil sikap yang harus dilakukan yakni rajin membaca ?

Sikap guru yang selama ini digolongkan malas membaca, hendaknya dibuang jauh-jauh. Menulis karya ilmiah hendaknya tidak perlu menunggu hingga golongan IV a. Lakukan menulis itu sekarang juga di golongan mana pun Anda berada. Jangan pernah , duduk dengan melamun menikmati asap rokok Gudang Garam kesayangannya hingga berlama-lama. ! Kurangi ngobrol yang tak berguna, lakukan perubahan ! Carilah inspirasi , kembangkan motivasi, singkirkan sikap malas yang mengangkangi ! Peganglah dengan erat alat tulis yang ada di antara jari-jari , goreskan pada kertas kosong yang menanti isi sehingga Anda menjadi penulis sejati !

Keempat, Tulis, Ide yang Muncul

Apabila niat Anda benar-benar ingin menulis, Anda picu ide Anda dan dapat menyingkirkan sikap malas maka ide Anda akan muncul kapan saja dan di mana saja Anda berada. Agar ide Anda yang bagus tidak terbuang sia-sia maka ide-ide itu hendaknya segera dicatat di mana pun Anda berada. Kita sadari bahwa ide bagus yang belum sempat ditulis kadang menguap tiba-tiba dan kita kehilangan lacak untuk menemukan kembali di mana ia berada. Itu hal yang biasa.

Ketika sedang menikmati keluarnya sisa pencernaan di WC, ide bagus sering muncul tiba-tiba maka segera saja diinventarisir ide tersebut dalam buku kecil catatan pengumpul ide. Ketika waktu sebelum tidur kehadiran ide bagus, bangunlah dan catatlah ide itu agar tidak hanya menggoda pikiran ! Ketika membaca berita koran kemudian terinspirasi untuk menulis setelah termotivasi berita yang dibaca, tulislah ide itu segera sebelum tertutup oleh berita lain yang mungkin menghapus ide yang baru saja tiba !

Menulis segera ide yang muncul ini merupakan langkah kecil dalam memenuhi panggilan menulis akan tetapi penting untuk dilakukan. Banyak teman guru yang belum menulis bercerita tentang idenya yang hilang sebelum ditulisnya menjadi karya ilmiah. Oleh karenanya menulis segera ide yang muncul hendaknya dibiasakan.

Sebagai contoh yang saya lakukan. Ketika membeli bensin di warung, saya mendengar dan melihat anak-anak kecil saling sibuk bercerita dengan teman sebayanya , tumbuhlah ide saya untuk menulis dengan tema ” Gemar Mengarang Tumbuhkan Sejak Dini !” (dimuat pada Buletin Pusat Perbukuan Volume V Tahun 2001), maka saya tulis di buku pada saat itu juga. Saya kuatir apabila tidak saya tulis dengan segera, ide itu akan hilang di perjalanan 35 km sampai di sekolah.

Suatu malam ketika saya mau tidur muncullah ide untuk menulis tentang banyak kepincangan yang berlaku pada sistem pendidikan di Indonesia maka segera saya bangun dan menulis poin-poin pokok kepincangan tersebut. Setelah esok paginya baru saya kembangkan poin-poin pokok tersebut menjadi sebuah artikel pendidikan berjudul “ Bangunan Ambruk itu Bernama Pendidikan “ yang dimuat di majalah Gerbang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Edisi 11 Tahun III Mei 2004 : 14)

Bisa saja ide itu datang setiap detik, Tetapi apa yang bisa kita petik, Dia lenyap tak mau meninggalkan titik, Kita pun dibuat olehnya tak berkutik.

Ide itu datang setiap menit, Namun segera lari terbirit – birit, Maka kita tulis sebelum pamit, Kiranya itu bukan pekerjaan rumit.

Kelima, Bacalah Buku ,Koran dan Internet.

Kehadiran ide berbanding lurus dengan banyaknya membaca dan bahan yang dibaca. Tanpa pernah membaca kita tidak punya ide. Sedikit membaca, sedikit ide dan banyak membaca maka banyaklah ide.

Sebagai penulis harus banyak ide apalagi penulis karya ilmiah di media masa. Oleh karenanya banyaklah membaca buku, majalah, buletin, koran dan internet. Mengapa ? Buku adalah sumber informasi , pendukung ide yang kita munculkan. Tulisan kita tidak punya kekuatan tanpa kehadiran referensi di dalamnya. Tulisan kita tidak berbobot apabila data yang kita suguhkan tidak aktual dam referensi yang menyertai hanyalah seadanya.

Majalah, buletin dan internet adalah tiga media masa yang sangat perlu kita baca karena akan memperkaya wawasan. Membaca koran menjadi keharusan karena media inilah sumber berita pendukung data dan ide kita. Koran menghadirkan warta terbaru sehingga sangat tepat apabila setiap hari kita membacanya. Dengan banyak membaca koran kita mengetahui informasi yang tak sempat dilihatnya oleh karena kejadian itu tidak ada di depan mata kita. Dengan informasi itu ide kita muncul untuk menanggapi, mengkritisi atau memberi solusi dalam bentuk artikel sebaga karya tulis.

Menulis akan terasa segar apabila banyak bahan yang kita dapat dari banyak membaca media masa baik maka : Biasakan setiap hari makan informasi. Setiap waktu sarapan buku. Mengunyah-unyah majalah,. Syukur rutin membaca buletin.

Enhanced by Zemanta



Posted by Aji Baroto , Published at 9:23 PM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :