Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Landasan Kreatif Menulis

Landasan Kreatif Menulis

Oleh Drs.Marijan
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta
http://bbawor.blogspot.com/2010/10/landasan-kreatif-menulis.htmlBenarkah Anda ingin bergabung menjadi guru yang piawai menulis karya ilmiah pada umumnya dan karya ilmiah populer khususnya ? Terserah Anda, karena kegiatan menulis yang menghasilkan tulisan layak bagi orang lain memang tidak dapat dibentuk oleh kemauan yang lemah, waktu yang singkat dan motivasi yang rendah.
Coba tengok pikiran Anda untuk merenungkan deretan pertanyaan di bawah ini !
  1. Apakah Anda benar-benar menjaga semangat untuk menulis sehingga bisa mendobrak hambatan-hambatan yang melintang di depan Anda ?
  2. Apakah Anda setia dengan aturan jurnalistik yang menjadi etika kepenulisan sehingga dapat menumbuhkan kemauan untuk mengembangkan niat yang tidak akan melanggarnya ?
  3. Apakah Anda berani terus berusaha melakukan pengembangan kepenulisan di media masa dan bertekad bulat menguasainya untuk menuju pengembangan diri sehingga berbeda dengan guru pada umumnya ?
  4. Apakah Anda mau dan mampu untuk peka dan reaktif secara cepat terhadap situasi lingkungan sebagai bekal mendapatkan tema tulisan yang benar-benar melimpah ini ?
  5. Apakah Anda mampu memegang teguh kedisiplinan dalam menyiasati kondisi sehingga terjaga kemampuan Anda dalam menjawab permasalahan lingkungan lewat tulisan yang Anda bangun ?
Selanjutnya apakah ada kesungguhan pikiran dan hati Anda untuk menjawab dengan jujur pertanyaan-pertanyaan di atas ?
  • Jika Anda menjawab tidak, jalan buntu untuk menjadi guru yang mau dan mampu menulis karya ilmiah populer tepat ada di depan langkah Anda. Jika Anda ingin menjadi penulis yang konsisten, tak ada jalan bagi Anda kecuali membelokkan niat dan motivasi Anda menuju ruang di mana bersedia menjawab 5 pertanyaan di atas.
  • Jika Anda menjawab ada kesungguhan berarti harus mau dan mampu mengupayakan terwujudnya karya ilmiah populer sesuai dengan tuntutan media masa.
Bagaimana caranya ? Anda harus benar-benar menjadi guru yang mau mendalami karakter guru penulis. Apa yang dimaksud karakter guru penulis ? Karakter guru penulis dimaksud adalah sikap mental guru berkaitan dengan upaya nyata secara positif mewujudkan karya ilmiah populer.
Setidaknya ada 5 sikap mental yang mendorong terwujudnya karya ilmiah populer Anda. Lima sikap mental tersebut adalah (1) Spirit ( semangat), (2) Modesty (etika), (3) Adventurous (jiwa petualang ), (4) Resourceful ( bertindak cepat ), dan (5) Tenacious (kedisiplinan) ( Khrisna Pabichara (2007) yang selanjutnya saya singkat sebagai SMART. Kelima sikap mental tersebut merupakan landasan menulis kreatif.
Pertama , Spirit
Spirit adalah semangat yang selalu mendorong Anda untuk giat menulis. Ada orang mengatakan keberhasilan suatu usaha, 90% lebih berada di atas motivasi atau semangat. Demikian juga menulis. Semakin tinggi semangat seseorang untuk menulis, kian besar peluang untuk berhasil. Sebaliknya makin rendah semangat menulis dapat dipastikan makin kecil pula peluang keberhasilannya.
Sekalipun ada mesin komputer, kertas, alat tulis, referensi dan ilmu pengetahuan hal ikhwal menulis mutlak diperlukan akan tetapi semua itu dapat diupayakan keberadaannya dalam waktu yang tidak lama. Semua itu baru akan berfungsi bagi pemiliknya apabila berada di tangan guru yang mempunyai semangat menulis tinggi. Sebaliknya ketidakadaan komputer di rumah bukan halangan untuk menulis karena rental komputer ada di mana-mana.
Jadi, semangat menulis merupakan landasan mutlak karakter guru yang mau menulis kreatif. Tanpa ada semangat menulis, jangan mengharap Anda menjadi penulis kreatif. Oleh karena semangat berperan sebagai landasan dalam kegiatan menulis maka menjadi suatu keharusan bahwa semangat untuk diteguhkan dan ditegakkan. Semangat menulis perlu dipupuk agar tumbuh subur di dalam benak dan hati Anda. Gunakan nilai angka kredit 2 setiap tulisan dan duit honor dari penerbit sebagai pemacu semangat.
Kedua, Modesty
Modesty adalah etika, tatanan, unggah-ungguh atau sopan santun yang harus Anda perhatikan dengan baik selama bergelut dengan hal ikhwal menulis karya ilmiah populer. Berkaitan dengan etika menulis di media masa, seorang penulis harus bersedia memahami, mematuhi dan bersedia menerapkannya. Manakala etika itu dilanggar maka sama saja merusak masa depan yang sudah lama dibangun.
Etika seperti apa yang dimaksud ? Etika kepenulisan karya ilmiah populer di media masa menyangkut isi, kebahasaan dan kejurnalistikannya. Pertama, etika menyangkut isi ditegaskan bahwa makna yang terkandung dalam karya ilmiah populer yang Anda tulis hendaknya santun bagi semua kalangan pembaca. Terhadap pembaca tidak diperkenankan sombong diri, emosional dan merendahkan pembaca tanpa didasari hasil penelitian. Tidak dibenarkan mengobok-obok pemerintah secara tidak proporsional sekalipun yang diprmasalahkan benar.
Kedua, etika menyangkut kebahasaan terkandung pengertian bahwa bahasa karya ilmiah populer hendaknya enak dibaca, tidak mendua arti, tidak merusak tata bahasa baku bahasa Indonesia dan tidak banyak istilah yang tidak dimengerti oleh masyarakat pembaca kebanyakan.
Diharapkan tetap menggunakan bahasa santun sekalipun isinya mengkritisi pendapat atau teori yang sudah ada. Sebagai penulis yang mengharapkan tulisannya dibaca banyak orang, hendaknya tidak berlagak serba tahu karena pembaca akan merasa jenuh dan tidak simpati lagi .
Ketiga, etika kejurnalistikan adalah sikap santun dalam penampilan, memegang teguh rasa persatuan dan kesatuan antar media masa dan tertib dalam menjaga kewibawaan tokoh dan ilmunya. Sebagai contoh, sangat tidak etis penulis yang mengirimkan tulisan dengan tema dan bahasa yang sama ke lebih dari satu media masa. Demikian juga penulis yang mengambil teori atau pendapat pakar atau penulis lain akan tetapi tidak menyebutkan sumbernya, sangat tidak menjunjung ke-etis-an kejurnalistikan. Penulis yang mencantumkan nama diri sebagai penulis karya ilmiah populer di media masa tentang suatu tema dan tidak mencantumkan nama temannya padahal merupakan hasil penelitian bersama sungguh merupakan penginjakan etika yang seharusnya tidak boleh dilakukan seorang yang tahu tentang keilmiahan.
Ketiga, Adventurous
Adventurous adalah keberanian seseorang untuk melakukan hal-hal baru yang bersifat pengembangan. Tentu saja hal-hal baru yang dilakukan itu sebagai upaya peningkatan kompetensi dirinya. Keberanian mencoba hal-hal baru sebagai indikasi bahwa otak mempunyai daya inovasi yang tinggi.
Berkaitan dengan menulis di media masa, keberanian mencoba adalah hal yang mutlak diperlukan. Banyak para guru yang karena ketidakberaniannya mencoba sekalipun mempunyai banyak gagasan, maka impian untuk menjadi penulis tidak menjadi kenyataan. Sebaliknya tulisan di media masa tentu merupakan hasil nyata penulis yang berani mencoba berbuat menulis walaupun buah dari ide yang pas-pasan.
Apalah artinya ada niat mau menulis, peralatan komputer lengkap, alat tulis cukup, buku referensi tersedia dan seringnya mengikuti diklat karya tulis akan tetapi tidak ada keberanian mencoba menulis ? Maka ibarat peluru yang siap membunuh sasaran namun tidak ditembakkan. Tentu sia-sia. Padahal banyak kesempatan, banyak ruang, dan banyak sasaran tetapi karena tidak ditembakkan maka peluru tidak mengenai sasaran. Maka jangan menyalahkan orang lain apabila kesempatan yang ada ditangkap orang lain.
Keempat, Resourceful
Resourceful adalah kemampuan bertindak cepat dalam menghadapi segala situasi. Sikap cepat tanggap mengadaptasi lingkungan dan tidak menyerah terhadap situasi yang menyedot energi termasuk di dalam resourceful ini. Sikap yang demikian ini sangat dibutuhkan bagi seorang penulis kreatif.
Media masa pada umumnya dan media masa harian khususnya pasti menampilkan berita dan opini yang terkini. Oleh karenannya penulis opini harus selalu bertindak cepat dalam menangkap permasalahan yang ditampilkan pada opininya.
Tindakan cepat penulis opini itu sangat logis berkaitan dengan salah satu syarat ketermuatan opini pada media masa harian adalah aktual. Untuk mendapatkan karya aktual, dalam mengambil topik, dan dalam merangkum kata-kata pada analisis tulisannya dibutuhkan tindakan cepat tanpa mengulur-ulur waktu. Mengapa ? Ingat, banyak penulis lain yang juga bertindak cepat untuk menyuguhkan karyanya kepada pembaca.
Kemampuan bertindak cepat dalam menghadapi segala situasi dimaksud terkandung pengertian: Pertama, kecepatan merebut topik yang ditampilkan. Topik hendaknya yang terbaru permasalahannya dan yang sedang mencuat. Kedua, kecepatan menyusun kata-kata dalam deretan kalimat yang dibangun menjadi sebuah karya yang disebut artikel. Ketiga, kecepatan melayangkan karyanya sampai di meja redaksi.
Kelima,Tenacious
Tenacious adalah keberanian memegang teguh kedisiplinan hingga tujuan Anda tercapai. Disiplin adalah kata yang biasa kita dengar, sering diucapkan para pejabat, dan acap kita baca dalam buku-buku kenegaraan dan buku-buku keagamaan. Akan tetapi implementasi dalam hidup keseharian, dan penerapan dalam tugas kedinasan, kata disiplin seolah hanya menggema di sudut-sudut ruang, tak ada telapak yang menginjak , tak ada tangan yang memegang sehingga gema itu tak ditemukan.
Berkaitan dengan kegiatan menulis, kedisiplinan merupakan sikap yang bisa menjaga eksistensi Anda dalam komunitas penulis. Disiplin dalam kegiatan menulis hendaknya diimplementasikan dalam berbagai bentuk :
  1. Ambillah waktu secara terjadwal untuk memenuhi tuntutan niat dan kemauan yakni belajar, memahami, dan mencoba menulis karya ilmiah. Anda dapat menjadwal diri misalnya 1 hari dalam seminggu untuk urusan karya ilmiah. Selanjutnya meningkat 1 jam setiap hari untuk bergelut dengan karya ilmiah. Semakin Anda disiplin menggunakan jadwal untuk karya ilmiah diharapkan semakin akrab, kian cinta dan akhirnya merasakan sebagai kebutuhan hidup seorang guru.. Disiplinkan mengatur diri untuk mengadakan hubungan baik dengan membaca karya maupun dengan redaktur koran, buletin , majalah dan lain-lain. Ikuti edisi-edisi media masa yang berkaitan dengan karya ilmiah tentang pendidikan.
  2. Teguhlah Anda untuk selalu komit dengan fenomena pendidikan sebagai lahan kepenulisan karya ilmiah populer Anda. Andaikan Anda mengamati fenomena yang lain, agar dihubungkan dengan kepentingan pendidikan sehinggaakan membentuk kepercayaan masyarakat terhadap Anda bahwa Anda seorang penulis spesialis pendidikan.
  3. Tegas dalam memutuskan demi kedisiplinan yang akan dicapai. Lingkungan pergaulan sering menggoda ketika kita sedang melakukan kegiatan berkaitan dengan kedisiplinan. Karena kita selaku anggota aktif masyarakat maka kedisiplinan bukan harga mati. Kedisiplinan berkaitan dengan jadwal dapat kita geser sesuai kebutuhan apabila menemui kondisi lingkungan yang menuntut keberadaan kita. Misalnya:
    a. Ketika sedang asyik bergelut dengan kegiatan menulis, tiba-tiba di depan rumah ada tabrakan 2 sepeda motor yang berakibat jatuhnya kedua korban di halaman kita. Sebaiknya tolonglah dulu kedua korban itu semampunya, karena kita juga warga masyarakat yang sewaktu-waktu minta tolong orang lain. Tunda , kegiatan menulis ! b. Ketika sedang asyik membuat kerangka artikel , tiba-tiba dikabari tetangga ada yang meninggal. Beringsutlah, tinggalkan kerangka yang belum jadi dan pergilah segera ke tetangga yang warganya meninggal tersebut.
Akan tetapi kedisiplinan hendaknya ditegakkan dan diteguhkan apabila hanya terbentur dengan kondisi yang boleh dianggap tidak penting , misalnya :
a. Ketika sedang sibuk menulis , tiba-tiba ada teman datang mengajak mancing di taman pemancingan sambil menonton dangdut. Jawablah dengan halus dan sopan agar memaafkan karena tak bisa mengikuti ajakan sehubungan ada tugas mendesak yang segera diselesaikan.
b. Ketika sedang bergelut dengan komputer dalam menulis karya ilmiah tiba-tiba teman datang mengajak nonton sepak bola. Dengan tegas katakan tidak bisa karena ada tugas penting yang harus segera dikerjakan.



Posted by Aji Baroto , Published at 10:15 AM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :