Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Luka Perih Dihati

Luka Perih Dihati


By: M. Agus Syafii

Sumber penderitaan dari semua penderitaan terletak pada kehilangan. Kehilangan cinta, kehilangan hubungan dengan sesama dan kehilangan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. kehilangan ayah, kehilangan suami, kehilangan istri, kehilangan anak atau kehilangan orang yang kita kasihi. Terkadang kita mengabaikan keberadaan orang-orang yang mencintai kita dengan setulus hati namun mereka menjadi berarti bagi kita setelah mereka tiada. Menjaga orang-orang yang kita kasihi dan yang kita sayangi jauh lebih berarti selama mereka masih ada daripada mereka sudah tiada.

Demikian juga yang terjadi pada seorang suami yang mencintai istrinya dengan setulus hati namun istri yang dicintainya telah pergi meninggalkan dia dan sang buah hati untuk selamanya. Justru disaat cintanya semakin mendalam. Luka perih dihatinya tak tertahankan. Perasaan bersalah selalu menyelimuti dirinya. Masih teringat sewaktu pulang kerja, istrinya mengajak sholat berjamaah bersama suami dan sang buah hatinya. Istrinya selalu mengingatkan 'Ayah jangan lupa sholat ya..' Seulas senyum istrinya sambil menatap wajahnya namun tak juga dimengerti. Malam mereka membaca al-Quran bersama. Bergantian membaca dan saling menyimak. Semuanya berlalu begitu cepat. Canda dan tawa menghiasi rumah. Kebahagiaan itu hadir membawa kedamaian hati.

Pagi hari dirinya menemukan istrinya terpeleset saat mencuci. Tanpa berpikir panjang, bergegas membawa istrinya ke klinik terdekat. Sampai di klinik nyawa istrinya tak tertolong lagi. Air matanya mengalir tak tertahan. Begitu cepat istrinya meninggalkan dia pergi. Masih teringat pesan istrinya 'Ayah, jangan lupa sholat ya.' Bagai pesan terakhir untuk dirinya. Terbayang olehnya selama ini dirinya tidak bisa menjadi imam yang baik. Ditengah kesibukannya bekerja terkadang mengabaikan sholat dan keluarganya. Begitu istrinya telah pergi selamanya dan tak akan pernah kembali, perasaan kehilangan menyelimuti dirinya.

Malam itu di Rumah Amalia, Laki-laki muda itu bersama sikecil duduk dipangkuannya. 'Mas Agus, saya belajar mengikhlaskan kepergian istri saya, sekalipun terkadang hati saya masih terasa luka perih, semua itu ketetapan Allah yang harus saya terima, membuat saya semakin dekat kepada Allah.' Malam itu kami berdoa bersama untuk istri yang dicintainya.

'Katakanlah, 'Apa yang menimpa kami ini telah Allah gariskan. Dialah pelindung kami. Hanya kepada Allah semata, semestinya orang-orang beriman itu bertawakal' (QS. al-Taubah : 51).

Wassalam,
M. Agus Syafii
Enhanced by Zemanta



Posted by Aji Baroto , Published at 8:42 PM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :