Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Lebih Suka Tinggal Di Kemah Atau Di Rumah?

Lebih Suka Tinggal Di Kemah Atau Di Rumah?



 
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Selesai latihan yoga hari senin kemarin saya dijemput istri. Sebelum pulang, kami mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Ada sebuah tenda mungil yang sedang promo disana. Istri saya bilang;”Yah, kayaknya seru deh kalau anak-anak dibelikan tenda itu.” Maka kami pun membelinya satu. Jika Anda diminta untuk memilih tinggal didalam kemah atau di rumah, Anda pilih mana? Seorang pecinta alam, mungkin lebih memilih berkemah daripada tinggal di rumah. Tapi, itupun tidak mungkin dijalaninya setiap hari, bukan? Segemar-gemarnya Anda berkemah, pasti akhirnya pulang juga ke rumah. Ingatkah Anda bahwa dunia yang kita tinggali ini mirip seperti tenda berkemah? Jika tiba saatnya nanti, pasti kita akan dipanggil pulang untuk kembali ke ‘rumah’.
 
Begitu kami tiba di rumah, dua anak kami yang masih SD langsung memburu. Mengobrak-abrik bagasi mobil untuk mencari sesuatu. Begitu ditemukannya tenda itu, mereka melompat kegirangan. Sekitar setengah jam kemudian, tenda itu sudah terpasang di halaman belakang. Mereka lalu sibuk membenahi tenda itu dengan matras, mainan, lampu senter, makanan dan minuman, buku-buku serta semua yang mereka inginkan. Melihat tingkah mereka, saya jadi teringat bahwa dunia yang saya tinggali ini juga perlu dibenahi. Tepatnya, saya diingatkan bahwa jika saya menginginkan kehidupan yang enak dan nyaman untuk ditinggali, maka saya harus membenahi kehidupan itu sendiri. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar cara membenahi kehidupan, saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:  
 
1.      Antusiasme menjadikan hidup kita penuh gairah. Home sweet home, tidak ada tempat seindah rumah. Sebagus apapun sebuah tenda, tentu tidak senyaman rumah. Tetapi anehnya, mengapa anak-anak saya lebih suka berada dalam kemah daripada di rumah? Antusiasmelah yang membangkitkan segala keceriaan mereka.  Kita sering merasa lelah dan tidak bergairah. Seolah hidup tidak lebih dari sekedar kewajiban untuk menanti jarum jam bergerak detik demi detik dalam detaknya. Jika suatu saat kelak Anda memiliki perasaan seperti itu, maka periksalah; apakah Anda masih memiliki antusiasme? Jika tidak, maka hidupkanlah api antusiasme itu sekali lagi. Karena antusiasme mampu menjadikan hidup kita kembali bergairah.   
 
2.      Rajin-rajinlah berkonsultasi dengan pemilik rumah. Saya harus kembali bekerja. Namun kali ini tidak bisa berkonsentrasi. Anak-anak bolak balik memanggil saya, lalu menanyakan tentang cara memasang pasak di tanah. Nanti memanggil lagi untuk bertanya bagaimana menyambung tiang-tiang. Kemudian memanggil lagi untuk ini dan memanggil sekali lagi untuk itu. Sampai tenda itu benar-benar berdiri dengan sempurna. Dunia ini ada pemiliknya. Dia yang menciptakannya tahu seluk beluknya. Sedangkan kita yang hanya tinggal saja tidak benar-benar tahu segalanya. Maka sudah sepatutnya kita sering berkonsultasi kepada yang menciptakan dunia yang kita tinggali. Mendekatlah kepadanya, bukan menjauhinya. Sebab hanya dengan kedekatan itulah kita bisa mendapatkan petunjuk tentang cara menjalani hidup sesempurna-sempurnanya.
 
3.      Membuka diri dari lingkungan. Anak-anak mengeluh tentang pengapnya udara didalam tenda. Setelah saya cek, ternyata lubang ventilasinya tertutup rapat. Hidup kita juga sering terasa pengap. Padahal, solusinya sederhana saja; membuka diri dengan dunia disekitar kita. Menutup diri adalah penyebab bagi tidak mengalirnya energy. Dan menutup diri adalah biang dari segala kesempitan pandangan, kesesakan dalam dada, dan keterbatasan wawasan. Makanya, tidak heran jika kita semakin bahagia ketika semakin bersedia untuk membuka diri. Biarkan karbondioksida sisa pernafasan kita itu mengalir keluar. Nanti alam akan menukarnya dengan udara kaya oksigen. Biarkan energy yang ada dalam diri kita itu mengalir dan berkontribusi kepada lingkungan. Nanti dunia yang lebih besar akan memberi sokongan. Karena ketika kita bersedia membuka diri kepada lingkungan, maka lingkungan bersedia menerima kita dengan tangan terbuka. Lalu hilanglah kesempitan yang pernah kita rasakan.
 
4.      Melindungi diri terhadap gangguan dari luar. Di musim panas seperti sekarang nyamuk berseliweran didalam rumah kami. Apalagi di halaman belakang tempat anak-anak berkemah. “Cepat tutup kelambunya!” kata ibu mereka. Maka setelah kelambu itu ditutup, kehebohan karena gigitan nyamuk pun tidak terdengar lagi. Hidup kita kadang menjadi incaran pengaruh-pengaruh negatif dari luar. Jika kita tidak memiliki pertahanan, maka kita bisa kehilangan kendali atas hidup kita sendiri. Kita tidak bisa melarang nyamuk untuk menyerang, tetapi bisa memasang kelambu untuk mencegahnya memasuki tenda kemah kita. Kita juga tidak bisa melarang orang lain melakukan apapun sesuka hati mereka. Tetapi kita bisa memasang ‘benteng’ pertahanan didalam diri kita untuk mencegah pengaruh buruk mereka merusak kehidupan kita.
 
5.      Ada tempat yang akan kita tinggali lebih lama lagi. Hari sudah larut malam. Udara di luar terasa dingin hingga serasa menusuk menembus tulang. Sekarang, anak-anak sudah tertidur didalam tenda. Tidak ada lagi gelak tawa dan canda mereka. Meski mereka ingin tinggal lebih lama, namun sebagai orang tua kami ingin agar mereka tidur didalam rumah saja. Lalu kami memboyong mereka kedalam kamar, meninggalkan tenda kesukaan mereka. Hidup kita tidak jauh beda. Meskipun kita masih kerasan untuk menjalaninya, namun akan ada saatnya Sang Pemilik Hidup menghendaki kita pulang. Ketika keputusan itu telah tiba, maka tidak mungkin kita kuasa untuk menolaknya. Maka bersiaplah, karena ada tempat kembali yang akan kita tinggal lebih lama lagi.
 
Kehidupan kita hanyalah sementara saja. Tidak mungkin selama-lamanya. Maka sudah selayaknya jika kita mengisi hidup yang singkat ini dengan segala sesuatu yang penuh makna. Bergembiralah dalam menjalaninya, dan bersiap-siaplah dengan bekal pulang secukupnya. Agar kegembiraan hidup yang telah kita jalani di dunia, dapat dilanjutkan dengan kebahagiaan di alam keabadian.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman  - 21 Juni 2011



Posted by Aji Baroto , Published at 7:38 AM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :