Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Sekotak Mainan Untuk Bawahanku

Sekotak Mainan Untuk Bawahanku



Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Apakah Anda masih ingat adegan terakhir dalam The Lost World, salah satu sekuel film Jurassic Park? Ambisi Peter Ludlow - keponakan John Hammond - untuk membawa berbagai hewan Jurassic dari Site-B ke kebun binatangnya di San Diego berantakan karena induk T-Rex mengamuk di perjalanan. Seluruh kru kapal pengangkut tewas mengenaskan. Parahnya lagi, T-Rex itu kabur lalu mengamuk dan mengobrak-abrik seluruh kota San Diego. Induk T-Rex baru tenang setelah menemukan bayinya yang disandra. Sekarang kedua mahluk ganas itu siap dikirim kembali ke habitatnya. Ludlow yang tidak terima rencananya digagalkan segera naik ke kapal untuk menangkap bayi T-Rex yang kakinya patah itu. Namun niatnya tidak berjalan lancar karena ternyata, induk T-Rex sudah mulai sadar dari pengaruh peluru berisi obat bius. Sekarang dia terjebak dalam palka kapal bersama dua mahluk ganas itu.
Film itu penuh dengan adegan keganasan T-Rex saat menangkap dan mencabik-cabik mangsanya. Tetapi, di palka kapal itu dia tidak segera menerkam Ludlow. Mengapa? Karena sekarang dia menghadiahkan orang serakah itu sebagai mainan untuk bayinya. Masih ingat bagaimana induk T-Rex itu menemaninya bereksperimen dengan ‘mainan’ barunya? Melihat adegan itu, saya menjadi faham; mengapa T-Rex dewasa sedemikian perkasa dan terampilnya menerkam mangsa. Di kantor, kita juga sama. T-Rex dewasa itu seperti atasan. Sedangkan bayi T-Rex itu mewakili para bawahan. Jika Anda seorang atasan; bersediakah Anda menghadiahi para bawahan Anda dengan sekotak mainan agar mereka bisa bereksperimen sambil belajar untuk menjadi professional yang handal? Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar menempa dan mengembangkan bawahan, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:  
1.      Ingatlah bahwa dulu, Anda pun sama culunnya dengan mereka. Ini adalah landasan pertama untuk memahami bawahan. Banyak atasan yang kesal kepada bawahannya yang dianggap tidak becus, tidak kompeten, tidak bisa diandalkan. Mungkin memang ada bawahan yang masuk kategori seperti itu. Tetapi jika para bawahan Anda diterima melalui serangkaian system seleksi yang handal, berarti sebenarnya mereka memiliki semua potensi yang dibutuhkan untuk berkembang. Kalau saat ini mereka masih ‘belum becus, belum kompeten, dan belum bisa diandalkan’ seperti penilaian Anda; maka patutlah Anda ingat kembali bahwa dulu, mungkin Anda pun sama culunnya dengan mereka. Sesekali, buka album foto Anda. Maka Anda akan menyadari bahwa setiap manusia memiliki periode-periode perkembangan selama hidupnya. Jika Anda hebat, sekarang; tidak berarti sudah sehebat ini beberapa puluh tahun lalu. Jika Anda bisa berkembang, maka anak buah Anda juga demikian.  
2.      Sadarilah bahwa Anda bukan saudara kembar identik mereka. Boleh saja jika Anda ingin mengatakan; “Dulu, aku tidak seperti kamu!” Mungkin, sejak awal bekerja Anda sudah menjadi pekerja keras. Sedangkan bawahan Anda, tidak. Mungkin, Anda sangat cepat belajar. Sedangkan bawahan Anda membutuhkan waktu lebih lama. Mungkin Anda tahan banting. Sedangkan bawahan Anda menangis hanya karena Anda memakinya. “Jangan cengeng! Boss-ku dulu lebih keras kepadaku. Aku tidak apa-apa!!!” Ukuran sepatu kita saja berbeda, bagaimana mungkin bawahan kita bisa merasakan sepatu kita? Bahkan jika Anda seorang workaholic yang baru keluar dari kantor jam 11 malam, Anda tidak bisa memaksakan bawahan untuk melakukan hal yang sama. Mengapa? Karena mereka bukan saudara kembar identik Anda. Setiap pribadi itu unik. Dan seseorang tidak harus menyamakan kepribadiannya  dengan Anda untuk bisa sukses seperti Anda. Kita bisa berhasil, dengan keunikan yang dimiliki  masing-masing.
3.      Berilah kesempatan kepada mereka untuk bereksperimen. Keahlian kita didapatkan dari pengalaman, bukan dari buku dan ruang kuliah. Makanya, tidak fair jika sebagai atasan kita menuntut para bawahan yang minim pengalaman untuk memiliki kompetensi yang tinggi. Terus dimana mereka bisa mendapatkan pengalaman itu? Tidak ada tempat lain yang lebih baik selain tempat kita. Mereka adalah anak buah kita. Maka kitalah yang bertanggungjawab untuk memberinya kesempatan untuk memupuk pengalaman sebanyak-banyaknya. Jika Anda ingin mereka ahli mengolah data, misalnya; maka tidak ada cara lain selain memberinya setumpuk data dan mengijinkan mereka bereksperimen dengan data-data itu. Bagaimana kalau salah? Namanya juga proses pengembangan. Ada periode belajar dan bertambahnya keterampilan yang harus dilalui. Jika Anda berhasil memberikan kesempatan itu, dan mereka berhasil memanfaatkannya; maka Anda pasti memiliki bawahan yang handal. Tapi kan beresiko kalau sampai mereka melakukan kesalahan fatal? Ya dikasih sesuai dengan porsi dan perkembangan kemampuannya dong.
4.      Hadirlah disana saat mereka membutuhkan Anda. Ketika bayi T-Rex itu berhadapan dengan Ludlow sendirian, dia sangat ketakutan. Tapi saat dia tahu ada induknya yang menemani, dia langsung memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Induk T-Rex tidak harus ikut menggigit mangsa. Tidak pula mesti ikut dalam permainan untuk membuatnya berani bereksperimen. Bawahan kita juga sama. Mereka tidak memerlukan atasannya untuk langsung turun tangan berlumur lumpur, dan berbasuh peluh. Mereka hanya butuh atasannya ‘hadir’ disisinya. Hadir bukan dalam pengertian fisik, melainkan mereka tahu bahwa Anda selalu ada untuk mendukung, menyokong, dan memberi penghiburan. Bahkan ketika orang lain menyudutkannya, Anda ada untuk melindunginya. Jangan ikut-ikutan menjadi atasan yang gemar menimpakan kesalahan pada bawahan. Justru mereka butuh Anda untuk menjadi backup dalam setiap tindakan yang dilakukannya secara professional. Hadirlah disana bersama komitmen Anda untuk menjadi sandaran yang bisa diandalkan oleh para bawahan.
5.      Bantulah mereka untuk menjadi dirinya sendiri. Kita semua tahu betapa sulitnya untuk menjadi diri sendiri. Terlalu banyak hujatan dan penghakiman dari luar sehingga kebanyakan orang akhirnya memilih untuk ‘menyesuaikan diri’. Padahal, setiap kali seseorang ‘menyesuaikan diri’, itu artinya kita kehilangan sebuah peluang untuk membangun keunikan. Kita menganggap hal itu sebagai sebuah kelaziman, sambil tak henti-hentinya menggembar-gemborkan soal pentingnya menjadi unik. Hanya perusahaan yang unik yang akan terus bertahan. Hanya produk yang unik yang akan langgeng di pasaran. Hanya orang yang unik yang bisa membangun setiap keunikan. Tapi kita tidak memberi ruang kepada orang-orang yang kita pimpin untuk menjadi dirinya sendiri. Ironis, bukan? Menjadi diri sendiri itu bukan berarti boleh bertindak sesuka hati. Melainkan memiliki ruang dan kemampuan untuk mengeksplorasi kapasitas dirinya hingga di tingkatan yang paling tinggi. Bayangkan jika kita bisa membantu para bawahan untuk menjadi dirinya sendiri. Bukan sekedar lebih bahagia saat bekerja, mereka juga bisa menghasilkan produk atau kinerja yang belum pernah kita dapatkan sebelumnya.
Sudah tidak zamannya lagi untuk memandang para bawahan sebagai orang-orang yang tidak kompeten. Mereka yang diseleksi secara ketat itu pasti memiliki potensi untuk berkontribuisi sesuai harapan. Jika mereka tidak juga berhasil memperlihatkan kualitas diri dan kinerja tinggi, mungkin karena memang mereka kurang usaha dan komitmen untuk mengembangkan diri mereka sendiri. Tetapi, boleh jadi juga hal itu disebabkan karena kita tidak memberi mereka ‘mainan’ yang cukup untuk bereksperimen.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman 




Posted by Aji Baroto , Published at 10:06 PM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :