Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Berselisih Dengan Kolega – Siapa Yang Rugi?

Berselisih Dengan Kolega – Siapa Yang Rugi?


Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Berbeda dengan anak-anak, kalau orang dewasa seperti kita berselisih biasanya bisa berkepanjangan. Apalagi kalau perselisihan itu terjadi dengan kolega di kantor. Urusannya bisa menjadi sangat rumit sekali. Penyebabnya bisa jadi cuma hal sepele semisal, soal ’gaya berbicara kolega yang tidak cocok dengan kita’. Sampai pada hal serius seperti persaingan mengejar jabatan, rebutan simpati atasan, atau karena...entah kenapa; pokoknya kita merasa tidak cocok saja dengan dia. Aneh kan?  Sewaktu kita kecil dulu, sangat mudah untuk menyelesaikan perselisihan dengan teman. Setelah dewasa, manusia sering tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan titik temu untuk menghasilkan perdamaian. Kita merasa nothing to loose jika tidak akur dengan seseorang dikantor.  Jadi, mengapa harus berdamai?
 
Ketika menjadi ketua RT, saya mempunyai 4 petugas kebersihan yang dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing melayani Blok A dan Blok B. Pasangan petugas di Blok A kompak dan berkomunikasi dengan lancar satu sama lain. Pasangan di Blok B sebaliknya. Kerjaannya berselisih melulu. Di Blok A, mereka saling bergantian antara menarik gerobak, memungut sampah, dan menyapu jalan. Mereka bekerja bahu membahu. Di blok B, masing-masing jalan sendiri dan tidak saling sapa. Yang satu menarik gerobak terus karena merasa dirinya lebih senior. Koleganya memasukkan sampah seenaknya karena merasa disepelekan. Walhasil, lingkungan di Blok A jauh lebih rapi dan tertata dibandingkan dengan Blok B. Kenyataan yang saya temui di lingkungan RT ini tidak jauh beda dengan situasi di kantor-kantor. Betapa banyak karyawan yang berselisih dengan koleganya. Mereka merasa baik-baik saja, padahal faktanya; kinerja mereka terpengaruh juga. Saya yakin, mereka tidak untung jika berselisih dengan kolega. Bahkan bisa jadi hidup mereka hanya dibebani oleh kekesalan dalam hati. Dan kita tahu bahwa tanpa kedamaian, seseorang bisa kehilangan kebahagiaan di tempat kerja. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar berdamai ditempat kerja, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
 
1.      Ingatlah tujuan utama kita bekerja. Sesekali, kita perlu menyegarkan kembali ingatan terhadap tujuan utama kita bekerja. Mencari nafkah? Boleh. Mencari kebahagiaan? Mungkin. Apapun itu. Yang pasti, saya yakin Anda memiliki tujuan yang positif saat mengambil keputusan untuk bekerja. Rasanya, tidak ada orang yang bekerja untuk mencari musuh. Atau pergi ke kantor untuk menemukan lawan yang sebanding saat bertengkar. Kita semua bekerja dengan tujuan mulia, bukan? Bahkan jika diniatkan untuk ibadah, bekerja bukan hanya sekedar akan menghasilkan uang, melainkan juga pahala yang melimpah. Makanya, aneh jika kemuliaan kepergian kita ke tempat kerja harus dinodai dengan perselisihan dengan kolega kerja kita. Apakah itu baru berupa rasa iri. Rasa ‘tidak cocok’. Parasaan ‘tidak nyambung’. Atau sinyal-sinyal negatif lainnya yang kita rasakan didalam hati berkaitan dengan hubungan kita dengan kolega. Sayang jika kesucian niat bekerja kita harus ternoda oleh hal-hal yang buruk seperti itu.
 
2.      Perusahaan juga rugi loh. Ada orang yang merasa tidak merugikan perusahaan saat mereka berselisih dengan temannya. Persis seperti kedua petugas kebersihan itu. ‘Pokoknya kerjaan bereslah, Pak.“ Begitulah prinsip mereka. Faktanya, mereka sering saling tuding kalau ada sampah yang tercecer di jalanan. Stake holder saya, yaitu warga yang mengamanahkan tugas kepemimpinan RT merasa tidak dilayani dengan baik. Sama seperti orang kantoran yang mengira semua pekerjaan selesai meski saling berselisih. Faktanya, pelanggan mereka sering menjadi korban. Apakah pelanggan ekstenal, atau pun pelanggan internal. Misalnya, sering kejadian orang finance berselisih dengan orang sales sampai-sampai setiap invoice dari sales ditunda-tunda. Ada juga yang enggan menyokong temannya dengan data yang diperlukan karena merasa ada ganjalan dihatinya. Stake holder kita yaitu atasan, bawahan, pelanggan dan semua elemen terkait kinerja perusahaan tidak mendapatkan pelayanan yang optimal. Kedua petugas kebersihan itu mendapatkan ultimatum; perbaiki sikap, atau ada konsekuensi lain. Wajar jika kepada karyawan yang berselisih itupun perusahaan memberi ultimatum. Karena perselisihan karyawan sangat merugikan citra dan kinerja perusahaan. Dan tidak ada pilihan lain bagi setiap karyawan yang ingin dinilai baik oleh perusahaan selain rukun atau mengupayakan kerukunan dengan kolega-koleganya  
 
3.      Diri sendiri lebih rugi lagi. Dalam terminology kita ada istilah ‘trouble maker’. Siapapun kita, tentu tidak ingin berurusan dengan sang trouble maker itu. Bahkan, mereka boleh disingkirkan kok, meskipun tidak dalam pengertian fisik. Promosi? Seseorang yang diketahui sebagai trouble maker, sangat sulit dipromosi. Kalau pun ‘entah bagaimana caranya’ dia dipromosi, maka dia akan sulit untuk diterima oleh teamnya. Bagaimana jika Anda yang yang dicap sebagai sang trouble maker itu? Kan Anda sendiri yang rugi. Untuk menjadi trouble maker, Anda tidak usah membuat keributan. Cukup dengan menjadi pribadi yang menyebalkan bagi kolega Anda, deh. Apalagi jika berbuat jauh lebih buruk dari itu. Jauh lebih baik untuk menjadi pribadi yang menyenangkan di tempat kerja. Yaitu pribadi yang bersedia untuk memberikan rasa nyaman bagi ‘siapapun’ yang berurusan dengan Anda. Makna kata ‘siapapun’ itu mengandung arti tidak membeda-bedakan jabatan orang yang Anda layani. Atasan, bawahan, kolega. Semuanya Anda perlakukan dengan penuh hormat dan kebaikan yang sama menyenangkannya. Dengan sikap seperti itu, Anda bukan sekedar mendapatkan simpati dari mereka. Anda juga bisa menunjukkan bahwa pribadi Anda memang layak untuk mendapatkan perlakuan yang terhormat pula. Dan Anda, adalah orang yang paling beruntung karenanya.
 
4.      Mengalah jauh lebih baik. Perdamaian itu tidak bisa dibangun oleh satu pihak. Harus oleh kedua-duanya. Jika kita sungguh-sungguh menginginkan perdamaian, maka kita harus menjadi pihak pertama yang mengusahakannya. Tidak mungkin bisa berdamai jika kita tidak ingin berdamai, bukan? So first, kita yang harus memulainya. Tapi, bagaimana seandainya kolega kita tidak menyambut ajakan damai kita? Sama seperti perdamaian, perselisihan juga tidak bisa dilakukan sendirian. Jika mereka ingin berselisih tapi kita terus konsisten untuk berdamai, maka tidak akan terjadi perselisihan. Lho, bagaimana bisa berdamai dengan orang yang ngotot ingin berselisih? Bisa. Caranya, mengalah saja. Seseorang yang memang gemar berselisih tidak bisa menyembunyikan sifat buruknya sehingga orang lain pun tahu jika memang dia begitu. Jika Anda ikut terlarut dengan gaya permainannya, maka Anda akan mirip seperti dirinya. Tetapi jika Anda bisa menjaga diri untuk terhindar dari permainan buruknya, maka orang lain juga tahu jika Anda tidak seperti dia. Itu artinya Anda ‘waras’. Sudahlah sing waras ngalah, kan begitu nasihat yang kita terima. Kita memang patut menjadi duta perdamaian di tempat kerja kita. Tetapi jika orang lain tidak bisa diajak berdamai, ya sudah mengalah saja. Agar kita bisa tetap menjaga kebaikan nilai pribadi kita.
 
5.      Memaafkan seperti kita ingin dimaafkan. Mungkin memang Anda kesal kepada seseorang. Apapun alasannya. Itu valid bagi Anda. Saya tidak akan menghakimi Anda dengan menimpakan semua itu sebagai salah Anda sendiri. Anda berhak menilai kualitas hubungan dengan orang lain di tempat kerja. Dan wajar, jika Anda kurang nyaman dengan sikap dan perlakukan beberapa orang diantara mereka. Tetapi, percayalah; kekesalan Anda hanya akan menambah ‘beban’ di hati Anda saja. Jika orang itu sengaja melakukannya, maka itu bisa menjadi poin kemenangan baginya. Tapi jika dia tidak sengaja? Malah Anda yang menumpuk dosa. Maka maafkanlah kolega Anda jika dia melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan hati Anda. Apakah dia sengaja melakukannya, atau tidak. Dengan memaafkan itu, hati Anda akan semakin damai. Dan ingat pula, boleh jadi bukan hanya mereka yang menyakiti hati Anda. Mungkin kata-kata dan perilaku Anda yang justru menyakiti mereka. Apakah Anda tidak bermaksud demikian? Maka Anda butuh dimaafkan oleh mereka.  Banyak loh, kesalahan yang terjadi secara tidak disengaja. Baik yang dilakukan oleh orang lain pada kita, maupun sebaliknya. Apa lagi yang bisa menyembuhkan luka-luka yang ditimbulkannya selain saling memaafkan? Makanya, maafkanlah teman Anda seperti halnya Anda ingin dimaafkan oleh mereka. Bukankah Tuhan pun Maha Memaafkan?  
 
Kantor adalah tempat dimana kita menghabiskan waktu harian paling banyak. Dan kantor adalah tempat dimana kita menggantungkan beribu harapan. Maka pantaslah jika kita semua berusaha untuk menjadikan kantor sebagai tempat yang menyenangkan. Khususnya dalam hal hubungan dengan kolega kita. Hubungan antar manusia itu tidak luput dari selisih dan beda pendapat. Meskipun sudah berusaha untuk sama, kita ini tetap saja memiliki perbedaan. Itu bukan pertanda buruk, melainkan anugerah melalui keunikan. Kita bisa menjadikan anugerah itu sebagai berkah jika sama-sama memposisikan diri di tempat yang positif sambil menggunakan sudut pandang yang juga positif. Apa lagi dengan kolega di kantor kita. Karena mereka, adalah orang-orang yang paling sering dan paling lama berinteraksi dengan kita. Kita baikan yuk….
 
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman – 24 Oktober 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (Tahap editing di penerbit)



Posted by Aji Baroto , Published at 4:08 PM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :