Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Menjaga Kebersihan Sekolah

Menjaga Kebersihan Sekolah

Di kelas 8H, terdapat seorang murid bernama Jono. Jono adalah murid yang tidak pernah menjaga kebersihan kelas. Ketika ulangan, ia mencoret-coret meja, padahal telah diberi kertas coretan, dan ketika ia melakukan proyek, ia tidak membersihkan sampah, padahal ia sering diperingati teman-temannya.

Babak I
            Suatu hari, ketika pelajaran IPA, Jono dan Tini membuat poster. Jono membuat banyak sampah, tetapi ia tidak membersihkan sampah itu, padahal telah diperingati Tini. Perbuatan Jono tidak membaik dipelajaran matematika, dimana ia mencoret mejanya dengan rumus-rumus ketika ulangan matematika. Ketika Tini dan temannya Patricia melihat coretan Jono, mereka setuju bahwa mereka harus bilang tentang Jono ke Pak Matthew, guru homeroom mereka sekaligus guru matematika mereka.

Adegan I:
  Ketika pelajaran IPA telah usai, semua murid kelas 8H mulai merapihkan tas mereka.
Ibu Lili               : “Jangan lupa untuk membersihkan sampah di bawah meja ya. Setelah membersihkan sampah baru boleh pergi ke kelas berikut.”
Tini                   : ”Jono, kamu bersihkan sampah yang kamu bikin ya. Aku akan bersihkan sampah di sini.”
Jono                 : “Ya.” (diam-diam merapikan tas)
Tini                   : (lihat Jono merapikan tas) “Eh, Jono, jangan diam-diam pergi dari kelas dong..  Ibu Lili sudah minta kita membersihkan sampah yang kita buat ketika melakukan proyek.”
Jono                 : “Buat apa?”
Tini                   : “Kita kan harus menjaga kebersihan kelas. Ketika kita datang ke kelas ini, kan kelas ini bersih, jadi kita harus pergi dengan kelas ini bersih juga,supaya kelas berikut datang ke kelas yang bersih.”
Jono                 : “Itu kenapa kita ada Cleaning Service. Aku pergi aja deh. Ibu Lili juga tidak lihat. Kalau kamu mau bersihin kelas, bersihin aja sendiri.”

Adegan II:
            Jono pergi ke kelas berikut, yaitu matematika. Ketika Jono masuk dalam kelas, Pak Matthew sedang menulis di papan tulis dalam kata-kata besar; “ULANGAN DADAKAN! PERSIAPKAN ALAT TULIS!”
(Murid kelas 8H masuk ke kelas matematika, lihat papan tulis)
Pak Matthew     : “Kelas 8H, hari ini saya memberi ulangan!”
(seluruh kelas mengeluh dan menjadi ricuh)
Murid I              : “Pak! Kita belum diberi tahu!”
Murid II : “Iya! Kita belum belajar!”
Murid III            : “Siapa suruh tidak belajar! Namanya juga ulangan dadakan!”
Pak Matthew     : “Kelas, tolong diam!” (kelas menjadi diam) “Terima kasih. Nah, Patricia! Tolong bagikan ulangan ini kepada teman-temanmu.”
Patricia : “Iya Pak!”
(Patricia ke depan dan membagikan ulangan)
Pak Matthew     : “Setiap anak ambil 2 kertas coretan ya. Kertas coretan ada di depan!” (Patricia selesai membagikan kertas ulangan) “Waktu ulangan 30 menit cukup?”
Seluruh kelas: (dengan suara keras) “Cukup Pak!”
Pak Matthew     : “Baik. Ulangan dimulai dari sekarang!”
(kelas menjadi tegang. Jono mencoret – coret meja)

Adegan III:
                        Setelah 30 menit berlalu, semua murid kelas 8H lega dan mulai ricuh lagi.
(Kelas ricuh)
Pak Matthew     : “Waktunya selesai. Patricia, Tini, tolong kumpulkan semua kertas ulangannya ke saya.Sisanya boleh pergi istirahat.”
(Semuanya kecuali Patricia dan Tini pergi. Patricia dan Tini pergi dari meja ke meja mengambil kertas ulangan)
Tini                   : (kaget, bicara sendiri) “Wah! Mejanya Jono penuh dengan coretan! Emang Jono kehabisan kertas coretan?”
(Tini melihat kertas coretan Jono. Ternyata masih kosong)
Tini                   : (kaget lagi) “Ya ampun.. Kertas coretan Jono masih kosong ternyata!”
(Patricia datang ke Tini)
Patricia             : “Tini! Ngapain di meja Jono?” (Lihat meja Jono yang penuh coretan) “Waduh! Kok mejanya Joni penuh coretan? Wah.. Sudah keteraluan.”
Tini                   : “Lihat deh. Kertas coretannya aja kosong. Kotorin kelas aja.”
(Tini memperlihatkan kertas coretan Joni yang kosong.)
Patricia : “Lebih baik kita bilang Pak Matthew.”
Tini                   : “Yuk.”
(Tini dan Patricia ke Pak Matthew)
Pak Matthew     : “Ah.. Terima kasih Tini dan Patricia. Kalian boleh pergi istirahat.”
Tini                   : “Pak. Kita ingin bilang sesuatu tentang Jono.”
Pak Matthew     : (bingung) “Ada apa dengan Jono?”
Patricia             : “Jono mencoret-coret meja Pak. Dan ia tidak menggunakan kertas coretannya.”
(Patricia dan Tini menunjukan meja Jono yang penuh coretan.”
Pak Matthew     : “Wah. Saya lebih baik menemui Jono. Jika kalian ketemu Jono, tolong minta Jono kesini. Terima kasih untuk memberitahu saya tentang ini. Kalian berdua boleh pergi istirahat.”
(Patricia dan Tini pergi)

Babak II
            Patricia dan Tini mencoba mencari Jono, tetapi mereka tidak dapat menemukan Jono. Ketika pelajaran berikut, mereka bilang ke Jono bahwa Pak Matthew panggil dia, jadi ia pergi pada istirahat ke-2. Ketika Jono bertemu dengan Pak Matthew, ia kaget bahwa Pak Matthew menurunkan nilai sikapnya hanya karena mencoret-coret meja. Iapun kesal dan ia diberitahu tentang menjaga kebersihan kelas oleh Tini.

Adegan I:
Ketika istirahat ke-2 mau berakhir, Pak Matthew panggil Jono untuk bicara tentang mejanya yang penuh coretan itu.
(Jono masuk kelas)
Pak Matthew     : “Jono! Tolong ke sini.”
Jono                 : (kaget) “Ya? Ada apa pak?”
Pak Matthew: “Apakah ini mejamu?”
Jono                 : “Iya pak.”
Pak Matthew: “Apakah itu benar bahwa kamu mencoret meja ini ketika ulangan?”
Jono                 : (gugup) “Ti..ii..da…k P..ak…!”
Pak Matthew     : “Jangan bohong kepada saya.”
Jono: (lebih gugup) ‘Sa..aaa..yya. tid…a..k.. bo..hong.”
Pak Matthew     : (intonasi sedikit marah-marah) “Jono! Saya telah melihat kamu mencoret meja ketika ulangan. Jangan bohong kepada saya.”
Jono                 : “Ya pak.. Saya mencoret meja kemarin..”
Pak Matthew     : “Jangan ulangi lagi ya Jono. Untuk sikap saya akan turunkan ke B. Lain kali saya tangkap kamu mencoret meja lagi, saya akan turunkan nilai sikap kamu menjadi C. Mengerti?”
Jono                 : “Ya.”
Pak Matthew     : “Ya udah. Pergi ke kelas berikut.”
(Jono pergi dengan kesal)

Adegan II:
Ketika pelajaran Bahasa Indonesia, Tini melihat bahwa Jono sedang kesal, sehingga ia menghampiri Jono.
(Jono masuk kelas, lihat Tini)
Jono                 : “Hai Tini.”
Tini                   : (melihat muka kesal Jono) “Eh, kenapa? Pak Matthew ngapain?”
Jono                 : “Nilai sikap aku diturunin. Emang sebenarnya kenapa sih dengan coret-coret meja? Aku sering lihat saudara aku coret-coret meja dan tidak dimarahin, jadi kenapa aku coret-coret meja dan dimarahin?”
Tini                   : “Sebenarnya, kan mencoret meja tidak bagus. Namanya tidak menjaga kebersihan kelas atau sekolah.”
Jono                 : “Tau, tapi kan untuk itu ada cleaning service. Jadi sebenarnyakan kita bisa biarin aja sampah berceceran, ga usah menjaga kebersihan.”
Tini                   : “Tetap aja. Ada peraturan yang tidak membolehkan kita mencoret-coret meja. Itu juga akan merepotkan cleaning service. Dengan menjaga kebershian kelas, kita telah membantu menjaga kebersihan kelas.”
Jono                 : “Oh gitu ya.. Berarti aku tidak boleh buang sampah sembarangan juga ya?”
Tini                   : “Iya.”
Jono                 : “Oh.. Mulai sekarang aku akan jaga kebersihan kelas deh!”
Tini                   : “Bagus dong!”

Adegan III:
Hari esoknya, di pelajaran Inggris, Jono membuat proyek individu yang ditugaskan oleh guru. Setelah usai pelajaran Inggris..
(Jono membersihkan sampah, Patricia datang)
Patricia : (kaget) “Tumben, bersihin sampah.”
Jono                 : “Emang kenapa? Tidak boleh membersihkan sampah?”
Patricia : “Bukan itu. Kamukan tidak pernah bersihin sampah di proyek sebelumnya.”
Jono                 : “Aku udah belajar bahwa kita harus tetap menjaga kebersihkan sekolah, jadi aku bersihkan sampah ini supaya kelas kita tetap bersih.”
Patricia             : “Itu baru namanya menjaga kebersihan sekolah! Akhirnya kamu mengerti juga. Jangan lupa untuk membersihkan sampah atau tidak mencoret meja setiap hari, bukan hanya hari ini.”

Sejak hari itu, Jono menjadi murid yang berbeda. Ia membersihkan sampah yang ia buat dan tidak pernah coret-coret meja lagi. Banyak guru dan teman-temannya yang senang melihat bahwa Jono tidak mengotori kelas lagi. Drama ini mengajarkan bahwa menjaga kebersihan kelas itu penting, sebab jika kita menjaga kebersihan kelas, kita membantu menjaga kebersihan sekolah. (Christie/8H SMP Dian Harapan Daan Mogot)



Posted by Aji Baroto , Published at 7:25 PM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :