Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Alasan Sesungguhnya Kenapa Kita Membenci Hari Senin

Alasan Sesungguhnya Kenapa Kita Membenci Hari Senin

By Rizaki Irlambang -

hate monday

Entah sejak kapan, Senin identik dengan hal yang buruk. Lebih dari itu, tidak sedikit juga yang mengeluhkannya bahkan saat Senin belum datang. Saya yang kebetulan mengikuti Twitter ataupun konco-koncoan di Facebook, menuliskan kebencian mereka mengingat Minggu segera berakhir di mikroblog yang lebih mirip iklan baris belakangan ini. Siapa sih yang iseng pertama kali membenci Senin ? Apakah seorang pengangguran yang baru ditinggal kekasihnya pada Senin pagi dan lebih memilih diam di kamar seharian ketimbang mencari pekerjaan tetap yang akan memberinya penghasilan untuk menambah nilai tawar saat mengajak mantan kekasihnya balikan pada kemudian hari ?

Saya sempat menaruh curiga kepada Bob Geldof, vokalis band Irlandia, The Boomtown Rats, yang menciptakan lagu I Don’t Like Mondays pada tahun 1979. Tapi, anak band mana yang membenci hari Senin ? Mereka tidak harus bangun lebih awal pada Senin pagi karena takut terlambat upacara atau takut dipotong gajinya jika terlambat sampai kantor.

Sama seperti kebanyakan jelata kelas menengah ngehek lain, saya terkadang malas mencari tahu lebih jauh perihal yang sekiranya tidak menguntungkan atau tidak menarik bagi saya. Daripada membuang waktu mencari tahu asal mula orang-orang membenci Senin, bukankah lebih penting memikirkan apa yang publishable untuk diposting agar mendulang subscriber demi kenaikan trafik blog ? Komplotan blogger pemula pasti akan mengamini —di dalam hati.

Oke, lupakan alinea sebelum ini dan biarkan saya fokus pada praduga tentang mengapa Senin menjadi hari yang paling dibenci dalam seminggu. Ahli nujum saya mengatakan, inilah beberapa alasan mereka membenci Senin yang tak jelas wujudnya.

Macet. Senin lagi, macet lagi. Begitulah pengetahuan umum yang ada. Banyak orang mengeluhkan kemacetan lalu lintas di akun-akun media sosialnya sembari duduk dalam mobil yang sejuk sekali. Sendirian. Mereka tak sadar bahwa mereka adalah salah satu faktor penyebab apa yang mereka keluhkan. Saya bilang begitu bukan lantas pengendara motor bebas tuduhan. Berapa kali anda menemui pengendara motor mengebut di jalanan ? Berapa lapis ? Ratusan ? Lebih ! Mereka lupa bahwa mengendarai kendaraan ugal-ugalan dan menyalahi rambu lalu lintas dapat menyebabkan kecelakaan dan kecelakaan lalu lintas dapat menimbulkan kemacetan.

Kerja. Senin sama dengan kerja (lagi). Lembar-lembar kerja siap menyapa setiap Senin pagi seolah minta segera digarap. Seringnya bertumpuk-tumpuk. Mengapa menumpuk ? Mungkin karena anda terlalu terburu-buru pada hari Jumat. Terburu-buru menyambut akhir pekan dan dengan semringahnya berujar “Thank God it’s Friday !” Saking tak sabarnya ingin berakhirnya pekan, tidak sedikit yang memilih menunda pekerjaannya —yang tentu akan menumpuk pada si hari Senin yang akan disalahkan.

Tentu sahaja di atas itu versi ngawur, sementara menurut versi ilmiah berdasarkan riset ahli Prof. Leon Lack dari Flinders University menyimpulkan bahwa: kebiasaan bermalas-malasan hari Sabtu dan Minggu dapat mengganggu ritme tubuh yang menyebabkan tubuh kita menjadi letih ketika mengawali minggu. Saat itu orang-orang kerap menggunakan waktu luang di akhir pekan untuk “balas dendam” atas kurangnya jam tidur selama seminggu belakangan. Sehingga kita kurang siap menghadapi Senin. Timbul pertanyaan lagi bagaimana kalau hari senin jatuh pada hari libur ? Akankah orang-orang juga akan membenci hari senin atau menyukainya karena hari senin adalah hari libur ?

Hal tersebut juga dijelaskan dalam laman tech(dot)co. Senin dipandang sebagai perubahan mendadak dari Minggu, sehingga akan terjadi pergeseran emosional yang lebih besar.

Namun studi lain yang diterbitkan dalam Journal of Psyhology menunjukkan bahwa orang-orang bukan hanya membenci hari Senin, tapi juga Selasa, Rabu, dan Kamis. Sementara Jumat dipandang sebagai hari terindah dalam sepekan.

Sebentar, apa jangan-jangan bukan Senin yang kamu benci melainkan atasanmu yang otoriter sementara kamu terlalu takut kehilangan pekerjaan jika menentangnya ? Atau panjenengan membenci Senin karena harus pergi ke kantor dan mau tidak mau bertemu dengan rekan kerja yang lebih menarik dari kamu —yang bisa dengan mudahnya mengambil hati atasan padahal kerjanya tidak becus ?
sumber:blog-netizen.com



Posted by Aji Baroto , Published at 4:08 AM and have 0 komentar

Tidak ada komentar :