Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Budaya Kambing Hitam

Budaya Kambing Hitam

Beberapa hari lalu diberitakan melalui berita pagi di sebuah televisi yang memberitakan telah terjadi kecelakaan yang menewaskan seorang ibu dan anaknya. Mereka tewas karena tertabrak kereta api yang sedang melintas. Satu hal yang cukup menggelikan kebanyakan warga yang menempati ‘rumah-rumah’ disekitar rel justru menyalahkan kondisi lingkungan yang tidak ada pagar pembatas antara rel dan ‘rumah warga’. Mereka menutup mata terhadap kemungkinan kecerobohan dan ketidakwaspadaan sang ibu tadi. Menggelikan karena justru keberadaan warga di sekitar rel lah yang sebenarnya tidak pada tempatnya, karena sekitar kiri kanan rel sebenarnya merupakan daerah terlarang untuk hunian.
Dari fakta diatas jelas sekali terlihat kecenderungan masyarakat kita untuk menyalahkan orang atau pihak lain atas apa yang terjadi atas diri mereka. Ya ternyata budaya ‘kambing hitam’ masih melekat erat pada masyarakat kita. Bukti keengganan untuk berkaca terhadap kesalahan diri.
Bagaimana dengan situasi di tempat kerja ..? Saya cukup yakin bahwa di banyak situasi kerja budaya inipun masih sering muncul. Jika di tempat kerja kita masih ada pernyataan-pernyataan seperti : “ Ah, teman-teman saya saja nih yang pada sirik dan suka ngadu ke bos, sehingga saya masih sering dimarahin si bos” atau “ Atasan saya orangnya sulit, sukar diajak bicara, makanya prestasi kerja saya ya begini-begini aja tidak bisa berkembang apalagi selama dia yang menjadi atasan saya” atau “ Perusahaan tempat saya kerja pelit tidak bisa menghargai karyawannya, makanya gaji saya ya segini-segini aja, nggak pernah cukup buat kebutuhan keluarga “
Jika kata-kata seperti di atas masih atau sering terdengar di tempat kerja kita atau bahkan kita sendiri yang seperti itu maka waspadalah ( seperti kata bang napi ), artinya ‘kambing hitam’ masih jadi piaraan favorit
Memang paling mudah menimpakan kesalahan pada orang lain dan bertindak seakan – akan kita tidak punya andil dalam kesalahan yang terjadi. Umumnya orang berbuat seperti ini untuk menghindari sanksi, cemooh atau vonis atas kesalahan yang telah diperbuat entah sengaja maupun tidak atau bisa juga karena faktor gengsi, malu karena telah berbuat salah . Sikap seperti ini justru akan berdampak negatif terhadap diri kita sendiri, karena orang lain justru tidak akan respek disamping itu sikap mencari kambing hitam ini akan menutup ruang bagi diri kita untuk melakukan introspeksi terhadap diri kita. Kenapa ..? Ya karena waktu kita akan habis untuk mencari ‘kambing – kambing hitam‘ mana yang bisa ‘disembelih’ untuk dijadikan kurban. Akan lebih produktif jika waktunya kita gunakan untuk mencari cermin dimana kita bisa berkaca dan melihat dimana letak kesalahan maupun kekurangan yang kita miliki.
Faktor penyebab dari semua hal yang terjadi sebenarnya dapat kita golongkan menjadi dua yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor ekternal tentunya adalah hal-hal diluar diri dan kendali kita, seperti : kebijakan pemerintah, kebijakan perusahaan, instruksi atasan, kondisi mental lingkungan, dll. Faktor internal adalah semua hal yang bersumber dari diri kita sendiri dan ada dalam kendali kita.
Faktor eksternal ada diluar kendali kita sehingga sangat sulit kalau tidak mau dibilang tidak mungkin bagi kita untuk merubahnya menjadi selaras dengan keinginan kita. Sebaliknya faktor internal ada dalam kuasa kita untuk mengendalikan, merubah sesuai yang kita inginkan. Orang – orang yang cenderung melihat kesalahan orang / pihak lain tergolong orang yang hanya mau melihat faktor eksternal sebagai penyebab. Padahal kalau kita mau sedikit merenung, jika kita hanya berkonsentrasi terhadap faktor eksternal akan sangat minim hasil yang bisa kita dapatkan. Adalah hal yang sangat sulit untuk merubah hal-hal diluar kendali kita, contoh kasus apakah mudah merubah keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, walaupun banyak elemen masyarakat demo di sana – sini pemerintah tetap pada pendiriannya. Mungkin hanya stress atau rasa frustasi yang akan kita dapatkan jika kita selalu berharap atau menginginkan hal-hal eksternal ini berubah. Lalu apa yang dapat kita lakukan..? Ya, sebaiknya konsentrasilah terhadap faktor – faktor internal dalam diri kita, karena kita punya kuasa untuk merubahnya menjadi selaras dengan kondisi dan alam sekitar kita. Jika kita tidak dapat membuat pemerintah merubah keputusannya menaikkan harga BBM, ya berarti kitalah yang harus fleksibel melakukan berbagai perubahan semisal memperketat dan mengefisiensikan pos-pos pengeluaran .
Dalam konteks dunia kerja atau di kehidupan sehari –hari misalnya, kita harus berani berhenti menyalahkan atasan, perusahaan, pemerintah, lingkungan, dll atas hal – hal yang terjadi terhadap diri kita. Pasti ada hal – hal dalam diri kita yang menjadi penyebab itu semua. Fokuslah pada hal-hal internal diri kita, bersikap fleksibel dan mau melakukan perubahan – perubahan yang memang diperlukan agar kembali selaras dengan lingkungan di mana kita berada.
“ Jangan pernah berharap orang lain berubah, tapi ubahlah diri kita menjadi selaras dengan orang lain “
Michael Widi Susanto
Tag Technorati: {grup-tag}budaya



Posted by Health Care , Published at 12:25 PM and have 0 comments

Tidak ada komentar :