Bunga Kehidupan sebuah blog membahas tentang pernik pernik kehidupan yang terfokus pada masalah pendidikan (The life flower one blog discussed about something that was interesting to the world of education)

Katak Machiavelli di dunia kerja

Katak Machiavelli di dunia kerja

Teori “Katak Machiavelli” katanya berlaku atau terjadi di dunia perkantoran (pemerintah “???”), nah.., bagaimana di dunia pendidikan atau sekolah ???
Oleh: HD MESSA
Dunia kerja, adalah juga kumpulan orang-orang yang secara bersama-sama mencari rizki dengan kegiatan usahanya, secara sosiologis, bila ada kumpulan orang maka akan timbul interaksi sosial dan dari interaksi yang kompleks, timbullah “praktek politik”, dalam skala yang sederhana, sampai ada buku “Politic at office” yang menjelaskan fenomena tersebut, karena itu lah, logika Machiaveli yang sebelum ini kita kenal di dunia politik, bisa berlaku juga di dunia kerja, misalnya dalam ranah persaingan karier, merebut posisi/jabatan pada suatu perusahaan.
Machiaveli seorang ahli politik dalam sejarah kuno romawi, dikenal dengan nasehat-nasehatnya yg dianggap licik, tapi ternyata efektif dalam meniti karier politik dan “bermain” politik. Dari sisi moralitas bisa jadi dogma-dogma dari Machiaveli dianggap sebagai suatuhal yang tidak bermoral, namun berbeda pandangan dari sisi politik praktis, yang seringkali menghalalkan saja berbagai cara untuk mencapai tujuan nya.
Hal yang sama ternyata bisa berlaku juga di dunia kerja atau bisnis secara umum. Salah satu tindakan praktis di dunia kerja yang menggunakan juga logika serupa dikenal dengan istilah perilaku katak, yang diterapkan oleh sebagian pekerja dalam menapaki kariernya. Katak secara karikatural/parodi digambarkan sebagai berperilaku, ke atas menjilat (menangkap mangsanya), ke samping menyikut dan ke bawah menginjak. Analogi itu menggambarkan karakter pekerja yang kalau ke atasan/bos berperilaku “menjilat”, ingin kelihatan hebat di mata atasannya dengan berbagai cara, cari muka istilah gaulnya, kepada rekan satu level ia saling sikut (merendahkan/menjelek-jelekan) atau tindakan yang merugikan lainnya,  sedangkan kepada bawahan “menginjak”, dalam arti perilaku yang menekan atau memeras tenaga bawahan untuk kepentingan sendiri, tanpa mempedulikan hak bawahan bersangkutan.
Sebenarnya itu hanyalah hiperbolisme semata, yang kalau sampai binatang katak bisa mengerti, mungkin mereka akan protes juga kepada bangsa manusia, tapi yah itulah manusia suka memberi gambaran jelek pada binatang, sama seperti istilah kambing hitam. Sebagian pekerja sudah mafhum dengan istilah demikian, dan memang benar-benar ada, para pekerja yang berperilaku seperti itu (karakter katak). Bila pekerja tersebut tambah canggih lagi dalam “bermain” strategi politik di tempatnya bekerja, maka bisa pula kita istilahkan dengan “Katak Machiaveli”.
Pengalaman saya di dunia kerja, menunjukkan bahwa secara diametral, ada dua tipe pekerja; Pekerja yang kompeten, bekerja dengan dedikasi tinggi dan tulus, namun kurang pandai berkomunikasi, yang merupakan salah satu cabang keahlian politik kantor. Di sisi lain ada pekerja yang kompetensi teknis nya biasa-biasa saja, tapi memiliki kemampuan politik kantor yang tinggi, pandai berkomunikasi dan ahli dalam membuat tak tik dan intrik-intrik.
Banyak kasus di dunia kerja, menunjukkan bahwa mereka yang berdedikasi tinggi, ahli dan tulus, kalah bersaing dalam perkembangan karier di bandingkan dengan pekerja yang walau skill teknis nya pas-pas, tapi pandai berkomunikasi dan berstrategi. Kesuksesan karier tak selalu berhubungan dengan skill teknis seorang pekerja, karena perusahaan tak memberikan respon yang setimpal, terutama pada perusahaan yang HRD systemnya tak berjalan baik atau corporate culturenya lemah.
Pada perusahaan yang memiliki corporate culture yang sehat dan HRD systemnya berjalan baik, kita istilahkan dengan perusahaan ideal, akan lain kondisinya, di tempat ini, pekerja yang berdedikasi tinggi, bekerja dengan tulus dan cermat, akan mendapatkan imbal balik yang bagus juga dalam perkembangan kariernya.
Tapi perusahaan ideal tersebut, bisa dikatakan hanya sebagian kecil dari perusahaan secara umum.
Sebuah penelitian psikologis di Amerika, yang meneliti karakteristik perusahaan dari sisi psikologis, dengan mengumpamakan perusahaan bagaikan manusia, Setelah mengadakan penelitian bertahun-tahun pada banyak perusahaan, ia menemukan bahwa perusahaan adalah bagaikan makhluk yang psikopat, memiliki karakter yang jelek; ingin menang sendiri, cari untung yang banyak, tak peduli dengan yang lain dan berbagai karakter negatif lainnya. Yah memang perusahaan bukan makhluk yang bernyawa, tapi ternyata berperilaku seperti itu. Hasil penelitian tesebut dibuatkan film dokumenter dengan judul “The Corporate”.
Tingkah laku paling ekstrim digambarkan pada perusahaan yang mana pimpinan/pemilik modal, memeras tenaga pekerjanya, tapi tak memberikan imbalan yang setimpal ditambah lagi dengan perilaku yang tidak adil terhadap semua karyawannya. Hal tersebut mendorong pula karyawan untuk berperilaku negatif, antara lain sikap “menjilat” pada atasan agar diperlakukan dengan baik, atau lebih parah lagi melakukan korupsi kecil-kecilan atau mencuri barang-barang perusahaan, karena ia menganggap bahwa perusahaan telah menganiaya dirinya selaku pekerja.
Karakter perusahaan yang seperti itu, akan klop sekali dengan para pekerja yang memiliki karakter “Katak Machiaveli” tersebut diatas, sehingga banyak kita temui, bahwa banyak mereka yang sukses berkarier selain mereka yang memang benar-benar kompeten dari segi teknis dan pandai berkomunikasi, adalah juga, mereka yang biasa-biasa saja dari sisi kompetensi, tapi ahli juga dalam “politik kantor”. Banyak juga kita temui, pekerja-pekerja yang idealis, berdedikasi tinggi dan memiliki kompetensi teknis, tapi kariernya mentok atau bahkan frustasi, bahkan keluar kerja dan berpindah-pindah kerja dari perusahaan ke perusahaan lain, tapi tetap saja kariernya tak berkembang bagus.
Karakter perusahaan yang tidak sehat seperti itu, seringkali menjadi bahan ejekan juga, sumber ketidak puasan dari para pekerja idealis yang merasa telah bekerja dengan dedikasi tinggi, tapi perusahaan tak memberikan balasan setimpal.
Dalam dunia kerja, bisa dipilah dua tipe pekerja, pekerja yang sukses dan pekerja yang berbakti untuk perusahaan. Pekerja yang berdedikasi tinggi akan mendarma baktikan dirinya untuk kemajuan perusahaan dengan berbagai cara, ia berjuang dengan tulus dan ikhlas, syukur bila ia berada di perusahaan yang bagus juga budaya dan HRD systemnya, ia akan mendapatkan kompensasi dan pengembangan karier yang baik, tapi bila berada di perusahaan yang tak sehat budayanya, ia akan jadi pekerja idealis yang frustasi.
Pekerja yang sukses, sejak awal masuk kerja, sudah berpikir bagaimana caranya ia bisa sukses, dapat jabatan tinggi, dapat gaji yang besar, fasilitas, training dan berbagai manfaat lainnya. Kalau mereka memang memiliki kompetensi dan kecerdasan yang tinggi pula, tinggal dipulas dengan kemampuan komunikasi dan keahlian sosial lainnya, ia akan jadi pekerja yang sukses. Ada pula pekerja yang ingin sukses tapi tak memiliki kompetensi yang memadai, akhirnya ia lebih mengandalkan kemampuan, komunikasi, lobby dll, untuk mencapai keberhasilannya tersebut.
Pekerja sukses yang baik, adalah yang juga memberi kontribusi, terhadap kesuksesan perusahaan, ada dedikasi untuk bersama, bahkan berani berkorban demi kemajuan perusahaan. Tapi pada sisi lain ada juga mereka yang berusaha meraih kesuksesan dengan logika individualis/egois, bagaimana caranya saya bisa sukses sendiri, apa pun cara ditempuh, peduli amat dengan rekan kerja yang lain, bahkan tak begitu peduli juga dengan perusahaan yang penting dirinya bisa sukses, seperti cerita parodi, seorang pimpinan proyek (pimpro) pada sebuah perusahaan yang berpendapat bisa saja proyek nya rugi, yang penting pimpro secara pribadi tetap untung. Ia hanya berusaha mencari manfaat sebesar mungkin dari perusahaan, tapi sebaliknya perusahaan tak mendapatkan manfaat yang besar dengan keberadaan pekerja tipe tersebut. Kalau tak didapat di suatu perusahaan ia berusaha mencari di perusahaan lain, kita kenal pula dengan istilah pekerja kutu loncat.
Pekerja yang berusaha sukses secara individualis ini lah yang banyak pula menggunakan logika ‘Katak Machiaveli” diatas, dalam menempuh jenjang karier nya.
Secara legal formal, mungkin sah sah saja, tak melanggar hukum, tapi secara hubungan timbal balik antara perusahaan dengan pekerja, perusahaan tak mendapat manfaat banyak dengan tipe pekerja seperti ini, bahkan bisa merusak sistem pengembangan sumber daya manusia, merusak jenjang karier, bilamana ia memiliki jalur karier yang zig zag, melangkahi karier pekerja lain, menimbulkan rumor tak sedap dan de-motivasi pada pekerja lain, bila misalnya ia karena kemampuan lobby nya, menjadi pekerja kesayangan bos besar.
Para pekerja di satu sisi dan perusahaan di sisi lain, bisa kita andaikan bagaikan 2 makhluk yang berseberangan dan ketika mereka menandatangani kontrak kerja, saat itulah mereka bagaikan pasangan yang menjalin janji. Perkembangan selanjutnya penuh dengan lika liku, ada konflik seperti demo mogok kerja atau bahkan terjalin harmonis seperti perusahaan yang bisa mengayomi pekerjanya dengan baik.
Sebenarnya perusahaan adalah kumpulan manusia juga, direksi dan komisaris pemilik modal. Manajemen perusahaan yang baik, akan berhasil juga mengarahkan semua kompetensi sumber daya nya untuk meraih keberhasilan, keberhasilan semua pihak, perusahaan untung dan karyawan pun bahagia. Bila kondisi seperti itu, bisa terbangun , pekerja yang berkarakter “Katak Machiaveli” tak akan ada, kalaupun ada sudah dikeluarkan secepatnya, supaya tak merusak sistem perusahaan secara keseluruhan.
Sebenarnya logika katak machiaveli tersebut, adalah hal yang rasional dalam dunia kerja, bahkan bisa disikapi secara positif. Misal sikap “menjilat” atasan esensinya ialah bahwa walau bagaimana pun, atasan harus memiliki rasa percaya yang tinggi terhadap kehandalan kerja anak buah nya, dan dengan sikap yang komunikatif, relasi yang baik, akan positif dalam proses pekerjaaan. Bawahan perlu membuat cara agar atasannya percaya dan merasa dekat, hal tersebut bisa dilakukan dengan cara yang positif tanpa merendahkan diri. Sikap “menyikut” pada sesama rekan kerja selevel, maknanya ialah bahwa kompetisi yang sehat antara sesama pekerja sah sah saja, dengan kompetisi lah akan terlihat siapa pekerja yang lebih kompeten, namun tetap mendahulukan sikap bekerja sama sesama rekan kerja.
Kalau sikap menginjak pada bawahan, memang adalah sikap yang negatif, sudut pandang positifnya ialah diperlukan sikap yang tegas dan jelas terhadap bawahan dalam pelaksanaan tugas dan atasan tetap memiliki wibawa dimata bawahan nya.
Bila dibuat analogi, pekerja yg berdedikasi tinggi, tulus dan kompeten, adalah bagaikan gadis desa yang berhati tulus. Ia memang cantik secara karakter, tapi tetap diperlukan pakaian yang serasi dan perawatan tubuh yang cukup, sehingga orang lain bisa melihat dia sebagai gadis yang cantik luar dalam. Bila ia berpakaian seadanya, tak merawat diri, walau ia seorang gadis yang baik hati, tulus, tetap saja belum tentu orang lain memiliki persepsi yang positif, ia perlu memulas diri, agar kecantikan dalamnya ( inner beauty ) dilengkapi dengan tampilan luar yang positif pula.
Kira-kira hal yg sama berlaku untuk pekerja yang berdedikasi tinggi tersebut, ia perlu “memulas” dirinya dengan keahlian komunikasi dan jalinan relasi yang baik dengan semua pekerja, atasan dan bawahannya, ia akan menjadi pekerja yang benar-benar menjadi asset perusahaan yang berharga.
Para pekerja yang bekerja dengan dedikasi tinggi, misal antara lain menerapkan konsep-konsep effective habitnya Steven Covey, Integrity, (part of be proactive habit). Secara diametral, sikap yang memiliki Integritas tinggi, adalah kebalikan dari sikap yang ditumbuhkan dari logika Machiavelli tersebut, tapi sebenarnya kita bisa buat paduan yang serasi antara kedua hal tersebut, dengan mengambil sisi-sisi positif dari tak tik machiavelli tersebut, untuk melengkapi Effective habit nya Covey, karena belumlah tentu pula, orang lain atau perusahaan memiliki sikap yang berintegritas pula, karena demikianlah realitas kehidupan, jalan hidup di dunia ini, tak selalu lurus .
Sumber: Inspiring Journey Story
Tag Technorati: {grup-tag}Kata Bijak



Posted by Health Care , Published at 1:20 PM and have 0 comments

Tidak ada komentar :